Skip to main content

SAVING NUMBERS

sms-sms
Ini beberapa alasan kenapa saya bertanya "Ini siapa ya?" ketika ada seseorang mengirim pesan singkat kepada saya.
1. Saya tidak kenal. "Hai, boleh kenalan," dengan tanda tanya ataupun tanda seru, dengan bahasa normal ataupun bahasa alay, dan/atau tanpa memperkenalkan diri dan keperluannya. Jangan harap saya membalas pesan ini.
2. Saya kenal tapi belum pernah tanya nomor teleponnya. Biasanya saya akan mengucapkan, "Sori, sori, gue belum simpen nomor loe." atau "Oh, ini nomormu toh...gue simpen yaw!". Berarti gue kenal dan diantara kita ada urusan penting.
3. Saya kenal tapi saya nggak merasa perlu untuk menyimpan nomornya karena beberapa alasan, yaitu :
a. saya benci sama orangnya (alasan yang sangat-sangat-sangat jarang terjadi).
b. saya nggak nyaman sama orangnya (alasan yang kerap-sering-kali terjadi).

Ada alasan mengapa saya membuat postingan ini, in case kalau ada diantara kamu-kamu yang bertanya.

Malam kemarin saya dapat pesan singkat dari seseorang yang saya kenal waktu saya kuliah. Kita sebut saja dia, tidak perlu menyebutkan jenis kelaminnya. Si dia ini sms saya menanyakan nomor sahabat saya dengan keperluan yang saya nilai agak aneh dan irasional. (ngerti kan artinya irasional?). Alasannya sesungguhnya tidak aneh, mengenai pekerjaan yang sama-sama digeluti oleh sahabat saya itu. Yang membuat aneh adalah pesan yang tiba-tiba dan mengapa harus teman saya. Sedangkan yang saya tau teman dia pun banyak yang profesinya sama. So, aneh berkembang menjadi irasional ketika dia berkali-kali sms dengan pertanyaan yang mirip-mirip dan telepon yang terus-menerus. Saya sampai menyuruh Papa saya mengangkat dan bilang saya nggak ada. Papa saya bilang, saya lagi dzikir. :-P
Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan berkenalan dan bertanya mengenai pekerjaan. Namun saya tidak suka dengan ke-tiba-tiba-an yang terjadi dan telpon terus-terusan untuk hal yang saya tidak mendapatkan penjejelasan yang lebih lanjut mengenai latar belakang dan fenomena yang mendahuluinya (oke, ini bukan skripsi). Saya mengakui dengan jelas, disini sayalah yang bermasalah. Seperti yang saya bilang di poin 3b di atas, saya nggak nyaman dengan orang ini. Okay, I'm the one with the trust issue towards every people i barely know or people i know for a long time either. Orang ini, dari awal pertemuan dulu di kampus, saya nggak pernah merasakan adanya sinkronisasi aura antara saya dan dia. Entah apakah dia menyadarinya atau tidak. Saya selalu ingin cepat-cepat menyingkir kalau dia ada di dalam kelompok bicara saya, dan saya menghindari untuk berpapasan di jalan. Insting mungkin, seperti binatang yang menghindari bahaya. Bahaya? Ya, saya merasakan keberadaan dia mengancam sesuatu dalam diri saya, yaitu : kenyamanan. Hal ini diperkuat dari beberapa curhatan teman-teman dekat saya yang kebetulan juga mengenalnya secara personal yang juga terkadang merasakan ketidaknyamanan yang sama.
gangguan perilaku.seriously?
Ketidaknyamanan ini berlangsung demikian intens kemarin itu karena beberapa hari sebelumnya dia pernah mengirim pesan ke saya (yang saya nilai sangat tiba-tiba, setelah sekian tahun tidak pernah bertemu apalagi ngobrol, bukannya su'udzon, tapi caranya nggak kena banget buat saya!). Dia menanyakan kabar, pekerjaan, lokasi saya, dengan pertanyaan-pertanyaan yang intonasinya interogatif, bukan bersahabat. Yah, mungkin itu memang hanya sms, tapi sms pun memiliki gaya bahasa masing-masing dari orang membuatnya, Sama seperti hasil karya sastra/novel/cerpen/tulisan apapun dari si penulisnya. Dan dia bahkan berkata berminat untuk menginap disini, di rumah saya, kalau dia main ke sini. (WTH!? Ada urusan apa coba?). Dekat-dekat saja saya menghindari, mana bisa saya iyakan. Kebetulan pulsa saya habis, jadi tidak saya balas. Sama seperti kejadian malam lalu ketika dia menanyakan nomor telepon sahabat saya itu, pulsa saya habis. How Lucky I Am! :biggrin:

Ng, kalau orangnya baca katamu? Terserah. This is how I talk to myself. And make a contemplative self-looking within my writings. Kalau merasa ada yang tersinggung, maap-maap aje ni yee... Isi hati nggak bisa dibohongi. Walaupuan dengan sadar saya tahu kalau ini adalah salah satu bentuk asertif-pasif. :lol:

Masalah nyaman-tidak-nyaman ini sebenarnya masalah dasar, survival,  dalam hidup manusia. That's the source how to cope with something that happened to our lives and life. Mau keluar apa nggak? Tahu resiko apa nggak? Berani ambil resiko atau nggak kalau tahu resikonya? TAPI, yang pertanyaan paling besar adalah, bagaimana mengatur resiko hasil dari keluar dari zona nyaman menjadi sesuatu yang setidaknya sedikit membuat kita nyaman, sehingga kita berhasil untuk beradaptasi dan cope pada suatu keadaan. Yang berhasil, maka akan move on, yang tidak berhasil maka secara otomatis akan mempertahankan diri (defense mechanism). Seperti yang saya lakukan. Selama masih wajar dan nggak berlebihan, mungkin perilaku saya tidak akan berubah ke taraf over-defense, dan jadi gangguan perilaku.
Saya berhasil berkali-kali keluar dari zona nyaman saya untuk beberapa keadaan. Beberapa keadaan lain tidak, dan saya masih mengusahakan beberapanya itu untuk berhasil sekarang-sekarang ini. Salah satunya adalah mempersiapkan mental ketika saya akan menghadapi pekerjaan baru yang mungkin tidak sesuai dengan apa yang diceritakan orang-orang dan bayangan saya. Dalam beberapa hal, life is about choices, kalau pilihannya banyak, mungkin bisa dieliminir dari yang paling tidak menguntungkan, kalau tinggal dua, mungkin hati nurani dan Tuhan menjadi panduan penting kali itu. Namun saya juga menyadari, nggak semua hal tergantung dari untung-rugi. Terkadang pengorbanan dan kerelaan itu membawa berkah sendiri dari pilihan-pilihan sulit yang sudah kita ambil, termasuk ketika kita mencoba meninggalkan zona nyaman itu.

Enjoy!
Read happily all!
:-D

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

DILAN 1990, DILAN 1991, dan MILEA

"Jangan datang ke perempuan untuk membuat dia mau, tapi datanglah ke perempuan untuk membuat dia senang."

Saya hari ini sudah menyelesaikan buku MILEA-nya Pidi Baiq versi soft-reading (jangan tanya dapat dari mana!) setelah saya penasaran begitu buku itu keluar. Budget buku saya lagi dikurangi. Hahahaha.

Saya membeli Dilan 1990 dan Dilan 1991 secara terpisah, yang satu di toko buku di kota saya dengan diskon, dan yang satu lagi dengan dalih lagi-lagi penasaran akan kelanjutannya, saya pesan online dengan diskon juga. Ketika Milea keluar, saya hampir mau membeli ikutan PO, tapi saya nggak butuh CDnya. Akhirnya nggak jadi. Begini dan begitu, ini dan itu, akhirnya saya membaca Milea. Setelah selesai membaca Milea, apakah Ayah Pidi akan mengeluarkan buku lanjutan Dilan-Milea lain? Soalnya Milea kan sudah mau tunangan dan Dilan sudah punya pacar yang juga dia pikirkan selalu.Ups....

Saya kaget waktu membaca Milea di awal karena ternyata Milea ini dari sudut pandang Dilan, dan dua…

RIUH JAGAD MAYA

Setelah pilkada Jakarta usai, ternyata keriuhan jagad maya belum selesai.
Wow banget kaka... salut sama kamu-kamu-kamu yang tiada henti entah menebar fakta atau isu atau sekedar pendapat dan pemikirannya atau malah fitnah (na'udzubullah) di jagad maya. Konsistensi yang luar biasa.... *standing applause*
Seakan-akan energimu tiada habisnya untuk mencari dan mencari, sebar dan membagi.
Coba energimu dialihkan untuk lebih keras mencari jodoh dan menggenapkan setengah dien. #eh
Coba energimu dialihkan untuk  mencari keahlian baru yang bisa berguna untuk nambahin CV atau sekedar keterampilan kerja dan kreatifitas. #uh-huh
Coba energimu digunakan untuk berbaikan dengan teman-temanmu yang terputus silaturahminya karena satu atau dua kata yang menyulut pertengkaran yang sesungguhnya tidak penting dan merugikan. #udahsipbelum?
Coba, lagi, energimu digunakan untuk mencari uang lebih banyak supaya bisa mencari restoran yang murah dan enak supaya bisa traktir keluarga besarmu. #yanginisipbange…

SCURVY

SCURVY. Pernah dengar sebelumnya? Nggak? Saya juga tadinya belum pernah baru dengar. :-D Gara-gara cerpen yang saya buat, saya jadi tahu kata ini, SCURVY, beserta arti lainnya. Kalau menurut terjemahan Om Gugel, SCURVY ini artinya CURANG. Curang itu contohnya seperti ini, "Hati-hati awas jatuh ke CURANG!", atau seperti ini, "Tolong tambahkan uang saku bulanan aku donk Pa, CURANG nih buat jajan.".  Garink?  Yes, I Am! :-P
Kali ini saya bukan membahas mengenai SCURVY=CURANG. Ada SCURVY yang lain. SCURVY yang berarti adalah defisiensi vitamin C. Wow! Saya kira tadinya kalau kekurangan vitamin ya namanya hanya avitaminosis. Ternyata, yang ini ada nama penyakitnya! SCURVY. Mau tau lebih lanjut? Enjoy this writing!