Skip to main content

JUDULNYA "NGOMONGIN ORANG"

Ngomongin orang?
Iya, saya tau kok...kamu mau bilang, "Dosa loh....", atau, "Ih, nggak boleh tau ngomongin orang..." (eh, ini mah saya kalau menegur orang lain yang ngomongin orang dink!) :P


Sungguh, tiadalah saya menyangka kalau kembali ke daerah asal akan menjadi lebih berat ketimbang bertahan di kota awal. Kota awal? Yup! Kota awal dimana saya mulai untuk memaknai hidup dan segala yang terjadi di dalamnya. Kota dimana saya belajar untuk lebih bisa melihat hal-hal lain selain diri saya sendiri.
Kembali ke daerah. 
Saya kembali ke daerah semata-mata untuk memenuhi panggilan ibu saya untuk bekerja disana, "Aku maunya kamu disini, deket sama ibu!" Sesungguhnya hati ini menolak dengan keras, apalagi si Papah sudah mengijinkan saya untuk memilih dimana pun saya mau, "Disini terlalu kecil buat kamu, pergilah..."
Dan doa seorang ibu yang tulus ikhlas dan tiada henti meminta itu pun di-ijabah sama Allah SWT. Apa boleh buat... Sebandel-bandelnya saya dan sering berkata "Ah.." pun masih tau batasan mana untuk tidak melawan orang tua, apalagi sampai jadi Malin Kundang. Naudzubillahimindzalik deh! And I really feel jealousy for you who get your own place of dreams. Because this city, is definitely not for me! I'd prefer Kyushu, or a little city in Germany or Dutch or a simple place in Europe. (and here comes the question, What things could help me to get there? Anyone???) :D


Eh, kok kita belum sampai di bagian Ngomongin Orang-nya sih???


Oh, nungguin toh? Hehehehe. Yah, marilah saya mulai bercerita...


Begini, pertama, saya tidak menyangka kalau di kantor pemerintah itu sikonnya berbeda jauh dengan pekerjaan saya yang lalu-lalu. Apalagi saya biasa bekerja dengan tanggung jawab sendiri, saya diberi tugas, saya kerjakan sampai selesai, saya buat laporan, kalau kurang ya tinggal evaluasi. Kalau di kantor sekarang, apa-apa harus menunggu Keputusan yang Di Atas. Bukan, bukan Tuhan, tapi Kepala Kantor. Lalu, apa-apa yang kita kerjakan harus dicek dan ricek terlebih dahulu, kalau yang ini sih saya tidak keberatan, namun yang terjadi seiring hal ini adalah ketika saya diposisikan sebagai junior dan harus ikut dulu apa kata senior. *yewrait* Untuk yang satu ini, saya maklum, karena menurut teori psikologi perusahaan terpecaya (saya inget bukunya, nggak inget siapa yang nulis), budaya di tiap kantor itu berbeda bahkan budaya kantor yang berada di bawah satu nama perusahaan.


Hal mengganggu lainnya adalah, perasaan enak-tidak enak yang timbul-tenggelam, entah secara sadar-tidak sadar, sengaja-tidak sengaja. Perasaan-perasaan tidak enak timbul karena :
1. Sebagai anak baru dinilai 'kelincahan' (ini masih opini saya sendiri, karena saya memang agak nggak bisa diam.)
2. Sebagai anak baru terlampau pintar untuk bisa menguasai berbagai macam hal jadi mungkin saja mendahului kehendak atasan langsung maupun tidak, baik sesama staf juga tentu saja. (dan ini pun masih timbul dari dalam pikiran saya sendiri.)
3. Sebagai anak baru harus pinter-pinter 'ngambil hati' yang sudah duluan di kantor. (yewrait! dan ini pun masih hasil dari otak saya yang ber-su'udzon.) Dan saya paling malas kalau urusan ini, yah nggak mau dilihat jadi 'penjilat', bisa dibilang begitu, ganti! :P
4. Sebagai anak baru, kalau ada yang ngga bisa atau salah, kadang tatapan yang timbul bisa diartikan "Masa gini aja nggak bisa...?" 
5. Terkadang hubungan pekerjaan profesional dikesampingkan dan memakai perasaan elok-tak elok. Sehingga nya muncullah perasaan enak-tidak enak yang timbul-tenggelam tadi.


Contohnya?


Misal, saya pernah ditegur karena saya pernah menegur seorang pejabat kantor (bisa dibilang begitu) "Ibu, Ibu..." dan ketika dia bertanya, "Ada apa?", saya tersenyum dan bilang tidak apa-apa karen ahanya ingin menyapa saja, saya kena omel, karena dia merasa dianggap anak kecil yang diajak main. Setelah konsultasi dengan beberapa orang tua di sekitar saya, bisa dipastikan kelakuan ibu itu tergolong overreacting. :D
Lalu, kejadian kemarin siang, saya dimarahi karena lelet. Saya lambat, dan dinilai mengerjai orang tua disuruh menunggu saya berganti pakaian sedangkan romobongan sudah mau berangkat ke rumah makan. Saya diam saja, soalnya kerjaan saya lagi banyak-banyaknya, jadi saya belum sempat ganti pakaian olahraga saya ke seragam batik. Yang saya tidak terima atas perlakukan ini adalah : (1) saya ditegur di depan umum, (2) dia tidak bertanya dulu tentang alasan saya kenapa lambat datangnya. (please deh, saya kan nggak kayak dia yang kerjaannya resepsionis tapi nggak pernah di lobi depan tapi asik di ruangan sama pesbuk dan games-nya. FFFUUUU-lah!) -> ini memang terdengar seperti pembelaan diri tapi memang kenyataannya begitu. Makanya, saya LEBIH MEMILIH DIAM dan tidak berkomentar.
Lain waktu saya salah menempatkan tanggal yang tidak sejajar nomor saat membuat surat, dan bapak atasan yang saya hadapi itu agak mencibir dan meremehkan. Nggak apa-apa sih, seandainya tidak pakai cibiran. Lain waktu pula, terkadang kalau ada email yang sudah dibaca, atasan terkadang tidak memberitahukan dan malah bertanya seolah-olah untuk mendorong kami mengecek email. Lah, kan nggak setiap detik depan komputer juga... (lagi-lagi ini pembelaan saya).
Dan yang paling memusingkan adalah rekan seruangan yang etos kerjanya turun-naik tiap jam. Sejam rajin-sejam malas-sejam kemudian kabur. *yewrait!* Padahal tanggung jawab dia di ruangan itu lumayan besar. Seandainya saya sudah tahu seluk beluk urusan kepegawaian di lingkungan pemerintahan, saya kan bisa mem-back-up kalau-kalau dia tidak ada. Ah, entahlah.... Wait and see saja.


Dan khususnya untuk hal-hal yang menurut saya nggak profesional dan sepatutnya dari rekan kerja saya, saya cuma bisa berpikir, WHAT EVER LAH, BUKAN KAMU YANG BAYAR SAYA KERJA. Sementara, ini yang bisa saya pikirkan.


Untuk saat ini, saya berupaya bertahan saja dululah. Siapa tahu Tuhan punya rencana yang lebih baik. Toh, kemampuan saya untuk sadar diri dan menyadari posisi di lingkungan masih ada, sehingganya saya nggak mau berlama-lama berada dalam pembelaan diri saya sendiri. Takut-takut, saya bisa depresi lagi kalo lama-lama disana! Positif saja deh... Masih sanggup buat positif kok! Masih ada yang bisa dijadikan sandaran. Dan masih ada yang bisa dipakai untuk mendengarkan unek-unek yang menjengkelkan kalau disimpan ini. Semoga teman-teman sekalian memiliki tempat kerja yang kondusif dan sesuai dengan yang diinginkan ya...:D


Happy Reading All!
Enjoy...
:D

Comments

  1. Saya pernah disituasi spt itu lu :)
    Untungnya bukan perusahaan yg kalau sy pengen keluar harus bayar sekian,,,

    Waktu itu sy berusaha mahfum kalau hal2 menyebalkan dari rekan2 senior mungkin dikarenakan tanggung jawab mereka yg lebih besar drpd sy yg junior. Jadinya mereka menekan sy sedemikian rupa. Tp nyatanya errr.. ya begitulah

    Mungkin sy yg lembek, tidak sampai 2 bulan akhirnya memilih mengundurkan diri, padahal saat itu sy sedang kismin hihi tapi tiada mengapa lah rasanya lebih survive dg sedikit uang dari pada banyak sakit hati :)

    Doa ibumu selalu menyertai lu, yakin saja kalau kamu bisa bertahan, dan situasinya akan berpihak padamu *hug hug

    ReplyDelete
  2. the most hurting part is, i really2 realize that this is not my will,and now, i have the opportunity to do what i want to do from the very start. haaaaahhh...cepek deh...but thanks alot ya dear buat dukungannya :D

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

DILAN 1990, DILAN 1991, dan MILEA

"Jangan datang ke perempuan untuk membuat dia mau, tapi datanglah ke perempuan untuk membuat dia senang."

Saya hari ini sudah menyelesaikan buku MILEA-nya Pidi Baiq versi soft-reading (jangan tanya dapat dari mana!) setelah saya penasaran begitu buku itu keluar. Budget buku saya lagi dikurangi. Hahahaha.

Saya membeli Dilan 1990 dan Dilan 1991 secara terpisah, yang satu di toko buku di kota saya dengan diskon, dan yang satu lagi dengan dalih lagi-lagi penasaran akan kelanjutannya, saya pesan online dengan diskon juga. Ketika Milea keluar, saya hampir mau membeli ikutan PO, tapi saya nggak butuh CDnya. Akhirnya nggak jadi. Begini dan begitu, ini dan itu, akhirnya saya membaca Milea. Setelah selesai membaca Milea, apakah Ayah Pidi akan mengeluarkan buku lanjutan Dilan-Milea lain? Soalnya Milea kan sudah mau tunangan dan Dilan sudah punya pacar yang juga dia pikirkan selalu.Ups....

Saya kaget waktu membaca Milea di awal karena ternyata Milea ini dari sudut pandang Dilan, dan dua…

RIUH JAGAD MAYA

Setelah pilkada Jakarta usai, ternyata keriuhan jagad maya belum selesai.
Wow banget kaka... salut sama kamu-kamu-kamu yang tiada henti entah menebar fakta atau isu atau sekedar pendapat dan pemikirannya atau malah fitnah (na'udzubullah) di jagad maya. Konsistensi yang luar biasa.... *standing applause*
Seakan-akan energimu tiada habisnya untuk mencari dan mencari, sebar dan membagi.
Coba energimu dialihkan untuk lebih keras mencari jodoh dan menggenapkan setengah dien. #eh
Coba energimu dialihkan untuk  mencari keahlian baru yang bisa berguna untuk nambahin CV atau sekedar keterampilan kerja dan kreatifitas. #uh-huh
Coba energimu digunakan untuk berbaikan dengan teman-temanmu yang terputus silaturahminya karena satu atau dua kata yang menyulut pertengkaran yang sesungguhnya tidak penting dan merugikan. #udahsipbelum?
Coba, lagi, energimu digunakan untuk mencari uang lebih banyak supaya bisa mencari restoran yang murah dan enak supaya bisa traktir keluarga besarmu. #yanginisipbange…

SCURVY

SCURVY. Pernah dengar sebelumnya? Nggak? Saya juga tadinya belum pernah baru dengar. :-D Gara-gara cerpen yang saya buat, saya jadi tahu kata ini, SCURVY, beserta arti lainnya. Kalau menurut terjemahan Om Gugel, SCURVY ini artinya CURANG. Curang itu contohnya seperti ini, "Hati-hati awas jatuh ke CURANG!", atau seperti ini, "Tolong tambahkan uang saku bulanan aku donk Pa, CURANG nih buat jajan.".  Garink?  Yes, I Am! :-P
Kali ini saya bukan membahas mengenai SCURVY=CURANG. Ada SCURVY yang lain. SCURVY yang berarti adalah defisiensi vitamin C. Wow! Saya kira tadinya kalau kekurangan vitamin ya namanya hanya avitaminosis. Ternyata, yang ini ada nama penyakitnya! SCURVY. Mau tau lebih lanjut? Enjoy this writing!