Skip to main content

ANAK ITIK BURUK RUPA

Dengan judul posting di atas, mungkin kalian sudah menduga ya saya mau menulis apa.
Nggak juga?
Ah, yang bener...?
Kan tadi siang sudah memberi selamat!
:P

Setelah sekian lama tidak posting, bukan tidak sempat, hanya saja gelombang K-Wave itu agak menyita waktu saya untuk melihat dan terkagum-kagum dengan si dia ini. Seperti sekarang saja misalnya, saya membuat ini sambil melihat video performance Mr.Simple, yang sudah berkali-kali tentu saja, saya tonton. Tapi memang ciptaan yang satu ini nggak pernah bikin saya bosan. Mungkin nanti, tapi tidak sekarang. Saya cukup menikmati melihat wajah imut-imut dan mata usil seperti yang dia punya. Hahaha. Deskripsinya genit sekali ya? Biarlah, mumpung belum ada suaminya~kata teman seruangan saya.

Ah ya, sampai lupa mau menulis apa. Satu paragraf hanya untuk menceritakan si bocah @gamegyu tidak akan cukup rasanya.

Hari ini saya 24 tahun.
Hampir, seperempat abad kurang setahun. Sudah cukup tua. Tugas perkembangannya pun ada beberapa yang harus segera dipenuhi. Iya, iya, menikah maksudnya juga. Hahaha. Wahai pembaca yang budiman, ketahuilah! Bukan saya tidak mau menikah, namun belum terlalu urgent rasanya. Mungkin saya akan bilang iya kalau dia yang mungkin saya rasa bisa jadi soulmate saya tiba-tiba muncul, mencuri perhatian saya, membuat saya tidak berdaya dengan keberadaan dia, dan dia juga begitu terhadap saya. Ah, ya, yang saya kira-kira rasa begitu nampaknya masih jauh asa dari mimpi. *ini salah kayaknya perumpaannya, apa sih yang bener?*

Usia 24 ini bagaimana ya memaknakannya? Nggak terlalu berat-berat seperti yang saya sebutkan di paragraf sebelumnya. Malam tanggal 16 itu yang saya pikirkan adalah, bagaimana impian saya bisa terwujud. Ya, impian saya untuk membuat sebuah perpustakaan atau tempat orang bisa membaca dengan nyaman dengan lingkungan yang mendukung. Saya membayangkan denahnya, ruangnya, rak nya, dapurnya, sofa, meja, kebun, sampai meja bar-nya. Saya tau saya harus mulai menghitung modal, tujuan, rencana dan lain-lain.
20 tahun yang lalu

Hari ini juga saya mendapatkan banyak ucapan selamat dari teman-teman, keluarga (etapi ayah sama ibu saya nggak dink, cuma kemarin malam dimasakin Rajungan Saus Tomat Asam Manis), adik-adik, dan bebrapa yang malah saya nggak ingat itu kenal dimana dan siapa via fesbuk (Gomenne~). Kebanyakan memang mereka yang sering berkomunikasi dan menghubungi saya. Namun saya tetap merasa sangat-sangat berterima kasih untuk ucapannya, doanya, dan perhatiannya. It's relieving to know someone still care about us. Yah, walaupun saya akui, saya terkadang alpa untuk mengucapkan selamat dan doa untuk mereka yang berulang tahun. Maaf yang sebesar-besarnya. Misalnya, saya sudah bertahun-tahun ini mengucapkan selamat yang terlambat kepada salah satu sahabat hati saya. Hahaha. Jahat ya? Untungnya sogokan saya selalu berhasil membuat dia senyum lagi walaupun pasti sempet dijutekin. :P

SEKALI LAGI TERIMA KASIH UNTUK KALIAN YANG SUDAH MENGUCAPKAN DAN BERDOA UNTUK SAYA. :D

Kontemplasi lain yang saya buat hari ini beberapa dibuat berdasarkan doa dari teman-teman sekalian. Semoga tambah dewasa, menjadi pribadi yang lebih baik, karir lancar, cepet jadi kepala seksi (nah, nah, huruf C aja belum hilang..), menemukan pasangan hati, umurnya barokah (amin!), pekerjaannya juga barokah (amin!amin!), tambah soleh, tambah cantik, sehat selalu, dan ucapan-ucapan terbaik yang bisa diberikan kepada saya. Senang? Pastinya! Tapi kadang, yang namanya defense ketika kamu dibilang semoga makin tambah dewasa, tambah cantik, dan sejenisnya kadang membuat saya berpikir hal-hal seperti ini. "Oh, saya masih kekanak-kanakan toh? Kenapa? Karena saya masih baca komik? Karena saya kadang berlaku seperti ABG? Atau karena teman ngobrol saya rata-rata lebih muda dari saya? Oh, saya emang jelek sih, ngga perlu juga jadi cantik kalo hatinya nggak cantik juga."
Pikiran-pikiran ini tidak terhindarkan lho... Bahkan sampai yang seperti ini : "Hah? Ngga salah ngomong gitu ke gue? Aduh, emang situ tau sama sini? Siapa elu berhak menilai gue? Tuhan?" Nah, ya, agak gawat memang! Tapi ini adalah sisi gelap, atau yang biasa kita sebut dengan istilah shadow dalam dunia psikologi. Bagian kepribadian yang dikenal orang awam sebagai egoisme ini memang sangat besar dalam diri saya.
Ah, ya, jangan kuatir, Insya Allah sih, kalau kamu nggak kenal-kenal amat sama saya, kamu nggak akan melihat apa yang saya tulis di atas. Bahkan, secara nonverbal pun kamu nggak akan bisa menebak kecuali kamu belajar ilmu yang sama atau punya indera keenam. Nah, karena kamu uda baca tulisan ini, nanti pasti yang timbul su'udzon, dan su'udzon itu nggak boleh lhooo... LoL.

Shadow ini, nggak saya minta, tapimuncul sendiri. Ketika saya sadar shadow ini ada, saya nggak berusaha membuangnya mengusirnya atau apapun istilahnya. Toh, dia tetap bagian diri saya. Shadow itu tetap masih saya juga. Pasti yang baca khawatir deh...
"Jangan-jangan selama ini Lulu cuma baik sama gue di depan gue doank, di belakang..."
Jangan kuatir, topeng 'baik' ini ngga terpakai setiap saat kok. Seperti fungsi topeng, topeng 'baik' ini digunakan untuk melindungi wajah asli ketika seseorang merasa terancam atau merasa tidak nyaman. Dan kalau sudah pakai topeng pun, keadaan tidak nyaman masih berlanjut, siap-siap aja manghadapi si Shadow tadi. Konsekuensi ditanggung masing-masing tentu saja, termasuk diri saya sendiri. Yang akhirnya akan dicap 'sombong', 'egois', 'kaku', 'sulit' dan lain-lain. Saya terima kok. Kan cuma Tuhan dan saya yang tau isi hati saya sebenarnya. Biarkan saja Tuhan yang menggerakkan hati saya untuk berlaku 'baik' atau tidak.
Pasti kalian juga merasa aneh karena si shadow ini bisa dibilang kelemahan tapi masih saya pelihara. Ya, bener banget! memang saya pelihara, saya kasih makan sesekali, saya kasih minum, saya sayangi. Mengapa? Karena Shadow ini saya gunakan sebagai alarm, sebagai peringatan, atas situasi-situasi yang tidak bisa saya kendalikan. Jadi bisa dibilang semacam insting. Kalau situasi nampak tidak menguntungkan, biasanya si Shadow berusaha keluar bagaimana pun caranya. Kalau sudah keluar, biasanya merupakan tindakan kompulsif, yang kadang saya tidak sadari.
Berkat pemeliharaan ini, saya bukan lagi orang yang tidak bisa bilang 'tidak' ketika ada gelagat pemanfaatan kebaikan dalam diri saya. Berkat pemeliharaan ini juga, saya tidak lagi naif terhadap dunia. Berkat pemeliharaan ini juga, awareness alias kontrol kewaspadaan saya terhadap lingkungan ada. Ada jeleknya memang, pemeliharaan ini membuat saya tidak akan berbaik hati pada orang yang pernah menyakiti saya. "Ngapain baik-baik sama dia kalau dia nggak pernah menghargai keberadaan saya?" itu sih yang pasti muncul di pikiran. Tapi lucunya, perilaku yang keluar lebih ke rupa-rupa cuek, tidak peduli, sebisa mungkin tidak berhubungan dengan orang tersebut kecuali masalah penting (hidup dan mati misalnya).

Usia 24 ini buat saya lebih ke usia yang diburu-buru.
Diburu-buru lulus, buat yang belum lulus. Diburu-buru punya pacar, yang sudah disuruh menikah. Diburu-buru mencari pekerjaan yang tetap, saat masih mengerjakan sesuatu yag kita sukai. Hey, but that's life! Nggak semuanya berjalan seperti maunya kita tentu saja! Bahkan ketika itu semua berjalan seperti maunya kita, pasti ada aja ruang kosong yang (masih) minta diisi.

Nah, bagaimana menurut kalian? Ulang tahun kalian tahun ini seperti apa?

Walaupun isi kepala saya sibuk dan hati saya penuh huru-hara, Insya Allah tampilan saya masih bisa dinikmati dan nggak akan menyusahkan orang lain. Banyak hal yang saya syukuri juga di usia 24 ini, keluarga, pekerjaan, pendidikan, teman-teman, kasur saya, boneka saya, laptop saya, uang saya, kesehatan saya, pikiran saya, semuanya alhamdulillah... dan semoga Allah SWT selalu melimpahkan barokahnya si setiap langkah saya seperti sampai detik ini. Semoga saya termasuk orang-orang yang diberi rahmat dan juga disayangi oleh Allah SWT. Amin ya robbal alamin.

Semoga arbitrariness kali ini juga berguna seperti yang lalu-lalu.

Enjoy!
Happy Reading All.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

DILAN 1990, DILAN 1991, dan MILEA

"Jangan datang ke perempuan untuk membuat dia mau, tapi datanglah ke perempuan untuk membuat dia senang."

Saya hari ini sudah menyelesaikan buku MILEA-nya Pidi Baiq versi soft-reading (jangan tanya dapat dari mana!) setelah saya penasaran begitu buku itu keluar. Budget buku saya lagi dikurangi. Hahahaha.

Saya membeli Dilan 1990 dan Dilan 1991 secara terpisah, yang satu di toko buku di kota saya dengan diskon, dan yang satu lagi dengan dalih lagi-lagi penasaran akan kelanjutannya, saya pesan online dengan diskon juga. Ketika Milea keluar, saya hampir mau membeli ikutan PO, tapi saya nggak butuh CDnya. Akhirnya nggak jadi. Begini dan begitu, ini dan itu, akhirnya saya membaca Milea. Setelah selesai membaca Milea, apakah Ayah Pidi akan mengeluarkan buku lanjutan Dilan-Milea lain? Soalnya Milea kan sudah mau tunangan dan Dilan sudah punya pacar yang juga dia pikirkan selalu.Ups....

Saya kaget waktu membaca Milea di awal karena ternyata Milea ini dari sudut pandang Dilan, dan dua…

RIUH JAGAD MAYA

Setelah pilkada Jakarta usai, ternyata keriuhan jagad maya belum selesai.
Wow banget kaka... salut sama kamu-kamu-kamu yang tiada henti entah menebar fakta atau isu atau sekedar pendapat dan pemikirannya atau malah fitnah (na'udzubullah) di jagad maya. Konsistensi yang luar biasa.... *standing applause*
Seakan-akan energimu tiada habisnya untuk mencari dan mencari, sebar dan membagi.
Coba energimu dialihkan untuk lebih keras mencari jodoh dan menggenapkan setengah dien. #eh
Coba energimu dialihkan untuk  mencari keahlian baru yang bisa berguna untuk nambahin CV atau sekedar keterampilan kerja dan kreatifitas. #uh-huh
Coba energimu digunakan untuk berbaikan dengan teman-temanmu yang terputus silaturahminya karena satu atau dua kata yang menyulut pertengkaran yang sesungguhnya tidak penting dan merugikan. #udahsipbelum?
Coba, lagi, energimu digunakan untuk mencari uang lebih banyak supaya bisa mencari restoran yang murah dan enak supaya bisa traktir keluarga besarmu. #yanginisipbange…

SCURVY

SCURVY. Pernah dengar sebelumnya? Nggak? Saya juga tadinya belum pernah baru dengar. :-D Gara-gara cerpen yang saya buat, saya jadi tahu kata ini, SCURVY, beserta arti lainnya. Kalau menurut terjemahan Om Gugel, SCURVY ini artinya CURANG. Curang itu contohnya seperti ini, "Hati-hati awas jatuh ke CURANG!", atau seperti ini, "Tolong tambahkan uang saku bulanan aku donk Pa, CURANG nih buat jajan.".  Garink?  Yes, I Am! :-P
Kali ini saya bukan membahas mengenai SCURVY=CURANG. Ada SCURVY yang lain. SCURVY yang berarti adalah defisiensi vitamin C. Wow! Saya kira tadinya kalau kekurangan vitamin ya namanya hanya avitaminosis. Ternyata, yang ini ada nama penyakitnya! SCURVY. Mau tau lebih lanjut? Enjoy this writing!