Skip to main content

[review:] SELUAS LANGIT BIRU


May I have a moment please?
 ..............................................................................................................................................
 
[sebutlah ini jeda panjang, untuk memikirkan apa yang akan saya tulis]


Judul : Seluas Langit Biru

Pengarang : Sitta Karina

Halaman : 304

TAhun terbit : 2008

Resensi :

Bianca Hanafiah adalah seorang gadis tomboi dengan pemikirannya sendiri yang cenderung bebas dan tidak mau terikat dengan ke-elit-an keluarga besarnya, The Hanafiah, akhirnya menyetujui pernikahan politik elit dengan Sultan Syahrizki dari perusahaan Matacakra. Namun apa daya, dia malah merasakan perasaan lain kepada adik Sultan, yaitu Aozora, atau Sora, yang juga terkenal sebagai playboy kelas kakap. Namun Sultan bukanlah orang yang bisa ditolak begitu saja oleh Bianca dan memilih pria lain dalam hidupnya. Dengan semua kehidupan elit dan sosialita yang dibawanya sejak lahir, yang manakah yang akan Bianca pilih?
 
Kata saya :
 ............................................................................................................................................. [jeda panjang lagi]

Bahkan kalau saya membacanya di tahun 2008 pun, saya tidak akan mengatakan buku ini memiliki struktur yang baik dalam membangun latar cerita. Seharusnya, pun buku ini adalah buku kelima dari The Hanafiah, banyak detail yang kalau kata saya hilang untuk  menjelaskan suatu cerita atau kisah. Penceritaannya terkesan terburu-buru, kejadian per kejadian seperti lompat. Latar belakang kurang dijelaskan per kejadian sehingga terkadang harus meraba atau membaca ulang beberapa paragraf sebelumnya. Nilai baiknya adalah dari penciptaan karakter dimana setiap tokoh memiliki kekhasan masing-masing yang terlihat dari percakapan antar tokoh (bukan deskripsi tokoh) sehingga tidak sulit membedakan si Anu dan si Ini, walaupun ada beberapa bahasa yang dipakai tidak sesuai EYD. Untuk temanya sendiri, bukan hal yang baru untuk dunia kepenulisan fiksi saat ini, mungkin pada masa itu (2008) ini adalah kisah remaja yang HOT banget karena menyangkut tentang keluarga kaya raya yang baik hati, jujur, sukses, elit dan tidak sombong. Padahal kalau dipikir-pikir tokohnya usianya diatas 20, bukan remaja.
 
Udah nih? Segini aja bahasannya?

 Apalagi dong? Sebenernya daripada mau membahas, saya lebih memilih untuk ngedumel.
 
Kok?

 Habisnya saya kecewa sih! Saya menaruh harapan terlalu tinggi untuk buku-buku Sitta Karina yang katanya best-seller dan selalu dicari oleh penggemarnya. Buku pertama Sitta yang saya baca adalah yang berjudul Circa, dan sukses saya tutup tanpa saya selesaikan setelah 10 halaman awal. Kemudian karena saya penasaran dengan The Hanafiah, kebetulan saya mendapatkan buku SLB ini dan saya paksakan sampai selesai bacanya. Demi!

 Demi apa?
 
Demi rasa penasaran dan kenapa buku-buku secondnya dihargain begitu mahal di internet. #sigh

 Yang buat kecewa apa sih?

 Perkembangan hubungan Sora-Bianca-Sultan sih nggak terlalu buat saya ngedumel. Tapi hubungan mereka dengan orang-orang sekitarnya itu yang eeeeeerrrrrrrr........ Misalnya, hubungan Bi-Inez yang dijelaskan penulis tidak sedekat itu untuk berbagi curhat, eh Inez malah curhat habis-habisan, terus Bianca juga nyarinya Inez untuk menceritakan hal-hal yang berkaitan dengan Sultan dan pernikahannya. Padahal katanya dia punya Kama yang katanya sahabat baiknya, tapi kok malah di awal diperlihatkan seolah-olah Kama iri gitu sama Bianca dan ke-elit-annya. Lalu Hubungan Bianca dan sekretarisnya, Agnes, yang hanya ditampilkan dalam satu kalimat tetapi kemudian Bianca segitu marahnya karena Agnes dipecat. Seolah-olah Agnes selalu ada dalam kisah, padahal kemunculan tokoh Agnes aja nggak ada.


Kemudian hubungan Sultan-Salina, yang saya baca sih hubungan mereka hanya sekedar rumor (gosip orang-orang kantor), dan Bianca yang menurut cerita tertutur tidak punya perasaan khusus untuk Sultan bisa dengan mudahnya on-off karena rumor mereka. Padahal Bianca seharusnya menjadi karakter yang mengkonfirmasi hal-hal rumor dong, dia kan wartawan. Terus Sultan-Salina juga tidak pernah diperlihatkan memperlihatkan keintiman seperti Reno-Rushi atau Sora-Bianca, jadi hubungan mereka itu seperti apa? Kalau bukan karena Sora yang menemukan poto Salina di tempat Sultan sih, ini pertanyaan besar ya. Sora pun tidak pernah mengatakan hal itu kepada Bianca lho! (soal poto Salina)


Lalu untuk kejadian per kejadian. Bianca kan perempuan terdidik ya, walaupun dia terobsesi dengan cerita ninja, nggak seharusnya lah dia menyelinap dengan berpakaian ninja (Wth?!). Pistol di pesta Queen, muncul darimana? Kenapa tidak ada kalimat "Mauro tiba-tiba mengeluarkan pistol dan mengarahkan ke Bianca." Giri yang menyelamatkan Kama dari Bagas, katanya Giri lagi dianterin pulang sama temen-temennnya, kok tau-tau temen-temennya ilang? Ketika Sora-Bianca berantem pasca pesta Queen, kayaknya perdebatannya cukup alot, kok tau-tau udah mingle lagi? Tidak ada konsolidasi untuk peredaan emosi yang muncul segitu intensnya? Lalu, Sultan yang segitu terkontrolnya dan serobotnya seharusnya menjadi tokoh yang paling bisa menjaga etiket dong ya. Dengan segala kekuasaan dan kepintarannya, dan keelitannya, seharusnya dia bisa dong tidak memanggil adik tirinya yang walaupun dia benci setengah mati dengan kasar dan merendahkan di khalayak umum. Sultan jadi nggak ada bedanya dengan preman  pasar dong ya. Padahal, selain kata-katanya yang ditujukan untuk Sora, Sultan adalah karakter yang keren, nyaris flawless. Kejadian lain adalah, kenapa Kei yang membawa Rushi untuk mengakui pengkhianatan yang dia lakukan? Seharusnya Reno dong yang lebih terluka, kenapa Sultan yang ngamuk-ngamuk?
 
Ih, jadi panjang....
 
Sudah?
 
Sudah, ah! Segitu aja ngedumelnya. Nanti diamuk fansnya lagi saya.

Sebenernya kalau bisa dibangun dengan lebih baik kejadian per kejadian dan hubungan antar tokoh bisa dijelaskan dengan lebih detil, SLB bisa menjadi novel YA yang keren banget menurutku sih. Untuk selanjutnya saya tidak akan berhenti untuk membaca karya Sitta Karina yang lain. Tapi kalau untuk mengkoleksi dan membeli, eeeeerrrrr..... Terima pinjaman saja kali ya! ;)



Comments

Popular posts from this blog

DILAN 1990, DILAN 1991, dan MILEA

"Jangan datang ke perempuan untuk membuat dia mau, tapi datanglah ke perempuan untuk membuat dia senang."

Saya hari ini sudah menyelesaikan buku MILEA-nya Pidi Baiq versi soft-reading (jangan tanya dapat dari mana!) setelah saya penasaran begitu buku itu keluar. Budget buku saya lagi dikurangi. Hahahaha.

Saya membeli Dilan 1990 dan Dilan 1991 secara terpisah, yang satu di toko buku di kota saya dengan diskon, dan yang satu lagi dengan dalih lagi-lagi penasaran akan kelanjutannya, saya pesan online dengan diskon juga. Ketika Milea keluar, saya hampir mau membeli ikutan PO, tapi saya nggak butuh CDnya. Akhirnya nggak jadi. Begini dan begitu, ini dan itu, akhirnya saya membaca Milea. Setelah selesai membaca Milea, apakah Ayah Pidi akan mengeluarkan buku lanjutan Dilan-Milea lain? Soalnya Milea kan sudah mau tunangan dan Dilan sudah punya pacar yang juga dia pikirkan selalu.Ups....

Saya kaget waktu membaca Milea di awal karena ternyata Milea ini dari sudut pandang Dilan, dan dua…

RIUH JAGAD MAYA

Setelah pilkada Jakarta usai, ternyata keriuhan jagad maya belum selesai.
Wow banget kaka... salut sama kamu-kamu-kamu yang tiada henti entah menebar fakta atau isu atau sekedar pendapat dan pemikirannya atau malah fitnah (na'udzubullah) di jagad maya. Konsistensi yang luar biasa.... *standing applause*
Seakan-akan energimu tiada habisnya untuk mencari dan mencari, sebar dan membagi.
Coba energimu dialihkan untuk lebih keras mencari jodoh dan menggenapkan setengah dien. #eh
Coba energimu dialihkan untuk  mencari keahlian baru yang bisa berguna untuk nambahin CV atau sekedar keterampilan kerja dan kreatifitas. #uh-huh
Coba energimu digunakan untuk berbaikan dengan teman-temanmu yang terputus silaturahminya karena satu atau dua kata yang menyulut pertengkaran yang sesungguhnya tidak penting dan merugikan. #udahsipbelum?
Coba, lagi, energimu digunakan untuk mencari uang lebih banyak supaya bisa mencari restoran yang murah dan enak supaya bisa traktir keluarga besarmu. #yanginisipbange…

SCURVY

SCURVY. Pernah dengar sebelumnya? Nggak? Saya juga tadinya belum pernah baru dengar. :-D Gara-gara cerpen yang saya buat, saya jadi tahu kata ini, SCURVY, beserta arti lainnya. Kalau menurut terjemahan Om Gugel, SCURVY ini artinya CURANG. Curang itu contohnya seperti ini, "Hati-hati awas jatuh ke CURANG!", atau seperti ini, "Tolong tambahkan uang saku bulanan aku donk Pa, CURANG nih buat jajan.".  Garink?  Yes, I Am! :-P
Kali ini saya bukan membahas mengenai SCURVY=CURANG. Ada SCURVY yang lain. SCURVY yang berarti adalah defisiensi vitamin C. Wow! Saya kira tadinya kalau kekurangan vitamin ya namanya hanya avitaminosis. Ternyata, yang ini ada nama penyakitnya! SCURVY. Mau tau lebih lanjut? Enjoy this writing!