Skip to main content

BUKU PERTAMA

Oh, jangan tertipu dengan judul ya pembaca budiman. Postingan kali ini bukan tentang buku yang pertama kali saya baca, bukan itu, saya sudah lupa lah, itu jaman sebelum lima tahun. Hahaha. Buku pertama yang saya selesaikan tahun ini, PENDIDIKAN DALAM SEPOTONG KERUPUK oleh mbak Alzena Masykouri. Belum pernah denger? Googling lah.... Gadget canggih kok ngga pada mau usaha... Etapi karena saya baik hati, ini sekilas tentang mbak Alzena.

ALZENA MASYKOURI. Berprofesi sebagai Psikolog Anak dan Remaja di salah satu klinik di daerah Duren Tiga Jakarta. Tertarik dengan dunia pendidikan dan pengembangan potensi anak dan remaja. Kesehariannya juga diramaikan dengan menjadi BUndanya anak-anak di sekolah Bestariku Bintaro. Menggemari fotografi dan jalan-jalan. Penikmat film dan penggemar makanan enak. (disadur dari halaman belakang buku)

Mmmmm.... Miriplah hobinya sama saya, apalagi kalau semua itu haratis (baca : gratis cuy!)

Buku ini sudah ada di saya dari pertengahan tahun lalu, baca satu bab terus ngga tuntas karena saya memang gitu orangnya. #eh
Finally, bulan ini diniatkan dengan sungguh-sungguh supaya buku ini bisa selesai. DAN INI KEREN! Sekeren aku jaman sekolah dulu. #tapiboong

Ceritanya, si Bubun ini lagi galau, apakah harus menyekolahkan si bocil tahun depan atau tahun depannya lagi, atau tahun depan depannya lagi. Sebenernya saya sebagai si Bubun ngga mau si Bocil sekolah sebelum dia lima tahun. Alasannya?
Karena si Bubun pengen dia main yang sepuasnya. Taaaapiiiiii... alih-alih main, kok ya malah di rumah kerjaannya nonton terus sama si Akung. Kan si Bubun keki berat yaaa... Ya memang salah saya sih, saya-nya kerja, ngga di rumah mendampingi si Bocil main. Si Akung kan juga terbatas energinya untuk menemani si Bocil main. Apalagi si Bocil energinya luar biasa, kalau main semua dikeluarin, semua dipakai, semua bergerak. Kan kasihan si Akung.... (ealah, malah curcol!) Tontonannya sih anak-anak semua, ngga ada yang berbahaya, yang berbahaya cuma waktu terpapar tipinya, agak lama.... Hix!
Kemudian, saya sebagai si Bubun terpikir untuk, apa disekolahin aja ya? Hasil tanya sana-sini, browsing kanan-kiri, nemulah sekolah bagus yang bisa memfasilitasi energi si Bocil. Tapi kok jauh? Hampir 1 jam perjalanan. Hix.

Sampai akhirnya saya membuka lagi buku ini dengan perasaan yang sama seperti pertama kali saya terima bukunya tahun lalu. Saya resapi, saya pikirkan, saya olah dan akhirnya saya mencapai suatu kesimpulan. Apakah itu? Jeng, jeng, jeng!
Si Bocil belum perlu sekolah sekarang. Si bocil selalu main dengan saya kalau saya di rumah. Si Bocil screen time nya masih ngga mengganggu milestone dalam tahap perkembangannya. Si Bocil bisa bermain dan berteman dengan orang-orang di sekitarnya sesuai kondisinya sebagai anak umur tiga tahun. Yah, walaupun badannya kayak umur lima tahun sih...

Buku ini mengingatkan saya pentingnya pendidikan di rumah untuk anak usia dini. Bahwa sebagai orang tua yang punya anak balita, keberadaan saya dan ayahnya lah yang paling baik untuk mensejahterakan kondisi sosio-emosinya. Saya dan pak  miswalah teman sejatinya. *kemudian sesenggukan mengingat betapa tahun lalu saya seringkali membentak si Bocil karena hormon yang turun naik ketika hamil*
Buku ini juga secara inplisit memberikan saya petunjuk untuk memilih sekolah yang sesuai dengan nilai-nilai di dalam keluarga kami untuk si Bocil nantinya. Pertimbangan-pertimbangan seperti visi misi sekolah apakah sejalan dengan tujuan kami sebagai keluarga. Kemudian kegiatan dan kurikulum yang dipakai sekolah apakah sesuai dengan energi dan kebutuhan si Bocil. Termasuk ikut serta dalam kegiatan ekskul ataupun les.
Buat saya, buku ini isinya mengingatkan, mengingatkan, dan mengingatkan apa-apa yang perlu kita persiapkan dalam pendidikan anak baik di rumah maupun di sekolah. Bukan hanya persiapan untuk si Bocil, tapi persiapan diri kita sebagai orang tua yang punya bocil. Bukan hanya hasil kerja anak, tapi melihat apa yang terjadi, dan perlu disiapkan oleh kita, bersama-sama dengan bocil, dalam proses menuju hasil tersebutlah yang lebih penting.


XOXO,
adaptif, bukan reaktif.

Comments

  1. Wah kliniknya deket markas Slank 🤘

    Ya ya ya ttg proses, saya setuju 😭

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mmmm.... *pukpukom*
      Proses yang baik seharusnya tidak menghadirkan penyesalan ya om... #eaaa #disambitsendal

      Delete
    2. Halagh apaan pake pukpuk sgala ckckck yg penting kan nganu 🤘

      Delete
  2. Pikiran yang sama waktu mau menyekolahkan anak karena saat di rumah malah sering nonton tv :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. trus mas zahir nya sekolah apa masih di rumah mbak?

      Delete
    2. Sudah sekolah, Lu. Tapi cari sekolah yang halamannya luas dan banyak aktivitas outdoor. :)

      Delete
    3. dimana kah? ih mau lha tengok-tengok...

      Delete
  3. Dulu saya memutuskan menyekolahkan anak pertama karena ada masalah keterlambatan bicara, tapi sekolahnya hanya 1jam sehari dan 3x seminggu. Kegiatan outdoor bareng saya tergolong jarang, tapi ketika ada ayahnya biasanya langsung diajak main keluar rumah, entah itu sekedar lari2an atau sepedaan.

    TV bisa dibilang nggak melulu nonton TV di rumah, sediakan aja buku atau mainan yang sekiranya gak terlalu bisa tercecer kemana-mana.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

DILAN 1990, DILAN 1991, dan MILEA

"Jangan datang ke perempuan untuk membuat dia mau, tapi datanglah ke perempuan untuk membuat dia senang."

Saya hari ini sudah menyelesaikan buku MILEA-nya Pidi Baiq versi soft-reading (jangan tanya dapat dari mana!) setelah saya penasaran begitu buku itu keluar. Budget buku saya lagi dikurangi. Hahahaha.

Saya membeli Dilan 1990 dan Dilan 1991 secara terpisah, yang satu di toko buku di kota saya dengan diskon, dan yang satu lagi dengan dalih lagi-lagi penasaran akan kelanjutannya, saya pesan online dengan diskon juga. Ketika Milea keluar, saya hampir mau membeli ikutan PO, tapi saya nggak butuh CDnya. Akhirnya nggak jadi. Begini dan begitu, ini dan itu, akhirnya saya membaca Milea. Setelah selesai membaca Milea, apakah Ayah Pidi akan mengeluarkan buku lanjutan Dilan-Milea lain? Soalnya Milea kan sudah mau tunangan dan Dilan sudah punya pacar yang juga dia pikirkan selalu.Ups....

Saya kaget waktu membaca Milea di awal karena ternyata Milea ini dari sudut pandang Dilan, dan dua…

RIUH JAGAD MAYA

Setelah pilkada Jakarta usai, ternyata keriuhan jagad maya belum selesai.
Wow banget kaka... salut sama kamu-kamu-kamu yang tiada henti entah menebar fakta atau isu atau sekedar pendapat dan pemikirannya atau malah fitnah (na'udzubullah) di jagad maya. Konsistensi yang luar biasa.... *standing applause*
Seakan-akan energimu tiada habisnya untuk mencari dan mencari, sebar dan membagi.
Coba energimu dialihkan untuk lebih keras mencari jodoh dan menggenapkan setengah dien. #eh
Coba energimu dialihkan untuk  mencari keahlian baru yang bisa berguna untuk nambahin CV atau sekedar keterampilan kerja dan kreatifitas. #uh-huh
Coba energimu digunakan untuk berbaikan dengan teman-temanmu yang terputus silaturahminya karena satu atau dua kata yang menyulut pertengkaran yang sesungguhnya tidak penting dan merugikan. #udahsipbelum?
Coba, lagi, energimu digunakan untuk mencari uang lebih banyak supaya bisa mencari restoran yang murah dan enak supaya bisa traktir keluarga besarmu. #yanginisipbange…

SCURVY

SCURVY. Pernah dengar sebelumnya? Nggak? Saya juga tadinya belum pernah baru dengar. :-D Gara-gara cerpen yang saya buat, saya jadi tahu kata ini, SCURVY, beserta arti lainnya. Kalau menurut terjemahan Om Gugel, SCURVY ini artinya CURANG. Curang itu contohnya seperti ini, "Hati-hati awas jatuh ke CURANG!", atau seperti ini, "Tolong tambahkan uang saku bulanan aku donk Pa, CURANG nih buat jajan.".  Garink?  Yes, I Am! :-P
Kali ini saya bukan membahas mengenai SCURVY=CURANG. Ada SCURVY yang lain. SCURVY yang berarti adalah defisiensi vitamin C. Wow! Saya kira tadinya kalau kekurangan vitamin ya namanya hanya avitaminosis. Ternyata, yang ini ada nama penyakitnya! SCURVY. Mau tau lebih lanjut? Enjoy this writing!