Skip to main content

DAY 10 : A FRUIT I DISLIKE AND WHY

"Kakak gendut ih..."
"Nggak!"
"Lihat tuh pahanya, pantatnya, ebol-ebol.."

"Nggak! Aku nggak mau gendut! Nanti jelek kayak Fishleg!"

Maafkan bahasa saya ya, pembaca yang budiman. Itu adalah cuplikan percakapan saya sama si bocil kalau saya lagi kumat usilnya. Anak saya ngga terima kalau dia dibilang gendut. Padahal ngga ada yang ngajarin kalau gendut itu jelek. Lihat saja ibunya ini, gendut juga kok! Pernah suatu kali, ada tetangga main ke rumah Utinya. Si tetangga ini biasalah jarang melihat si bocil.
"Ih, mbak Sita... Gendut ya sekarang..."
"Huh! Kamu pulang sanah!" buka pintu, terus melipat tangan di depan dada.
Jeng!Jeng!Jeng!
Ngga ada yang mengajari untuk seperti itu. Etapi melipat tangan itu duplikasi yang sama kalau saya sebagai ibunya sedang 'mendisiplinkan' dia sih... Ha-ha-ha.

Sebenernya si bocil ini ngga gendut, semok kalau kata orang. Mantep, kenceng, begitu bahasa lainnya. Saya akui, untuk fisiknya memang agak besar dibandingkan umur seusianya. Si bocil disejajarkan sama mbak sepupunya yang kelas 1 SD berbeda 3 tahun saja badannya besarnya sama, hanya saja si Mbak tinggian sedikit. Olala... Makanya kalau beli baju untuk si bocil, saya selalu mencari ukuran untuk 5 tahun. Orang banyak yang bertanya, makan apa si bocil badannya bisa sekel? (bahasa apa lagi ini?)

Makan nasi seperti bapak ibunyalah.

Iya serius, saya mah ngga ada menu aneh-aneh buat membesarkan anak saya. Bahkan semenjak dia mulai makan, saya tidak pernah ambil pusing untuk melihat timbangannya. Yang penting dalam sehari keperluan karbo, protein, mineral, vitamin, dan kalsiumnya terpenuhi. Saya juga ngga memaksa anak saya makan banyak, tapi secukupnya. Secukupnya itu satu centong tidak menggunung, ditambah sayur dan lauk secukupnya. Untuk cemilan, saya menyediakan macam-macam sih, wafer, roti, coklat, dan terutama buah. Nah, buah ini yang menjadi cemilan utama. Coklat, wafer, roti malah yang makan oomnya, ayahnya, akungnya, ibunya... #eh

Buah. Semenjak punya bocil saya menjadi pemakan buah. Dulu, saya makan buah, hanya kalau disediakan, atau kalau dikupaskan, atau kalau disodorin ke depan saya, baru saya makan buah. Sekarang, saya yang mengupas, saya yang menyiapkan, saya juga yang menyuapkan. Porsi makan buah si bocil ini memang agak banyak dibandingkan teman-temannya (sumber info dari ibunya masing-masing). Pepaya Cali ukuran kecil bisa habis dikonsumsi dia sendiri sebagai cemilan seharian. Alpukat mentega ukuran sedang untuk sekali cemilan. 1/4 melon ukuran sedang, porsi sekali makan. Pisang Cavendish 1 yang besar, porsi sekali makan. Kelengkeng 1/4 kilo porsi sekali ngemil. Mangga arum manis besar, juga porsi sekali ngemil. Bahkan ketika jam ngemilnya terlalu dekat dengan makan utama pun, makan utamanya mesti habis. Dia juga hobi minum susu. Rutin pula minum madu. Banyak makan, gerakannya juga banyak. Kadang saya pikir, agak hiperaktif nih bocil, diem cuma kalo tidur sama nonton tipi. Menonton pun masih dibarengi joged-joged dan nyanyi-nyanyi. Saya rasa itu semua yang mendukung terbentuknya badan bocil saya yang berotot.

Sejauh ini sih nggak ada buah yang ditolak sama Sita. Apa yang saya sodorkan, itu yang dia makan. Kalau ditolak itu karena dia bosan. Ha-ha-ha. Cuma satu yang belum saya tawarkan, NANAS. Mengapa? Karena saya ngga bisa makan nanas, kecuali sudah jadi selai, apalagi sudah jadi kue nastar #eh
Seingat saya, saya ngga alergi sama nanas. Teteapi saya ngga pernah merasakan enak setiap kali makan nanas. Setiap kali makan nanas, langit-langit mulut saya akan gatal tiada terkira. Seperti alergi. Maka dari itu saya tidak pernah lagi makan nanas, kecuali sudah jadi selai, apalagi sudah jadi kue nastar #eh
Saya akan meneruskan kebiasaan makan buah ini sampai bocil besar. Supaya pencernaannya lancar. Supaya vitamin dan mineral tubuhnya terpenuhi. Supaya dia ngga gendut kayak Fishleg. Olala.....

Kapan ya saya mengenalkan nanas ke si bocil?

XOXO,
Selamat makan siang semua.
Jangan lupa makan buah!

Comments

  1. Kebalikan anakku ya... Banyak yang bilang mereka kurus, padahal ya kalo timbang ya termasuk dibatas atas usianya. Tp mereka gak pernah ngeluh sih masalah dikatain gt. Oia, buah anak-anak suka walau anak pertama saya sedikit pemilih, tp nggak rutin tiap hari ada.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, padahal ya ngga gendut sih.. Seneng aja aku mah ngusilin dia... Hehehe.
      Nah kalo aku sih wajib ada mbak buah di rumah... Hehehe. Terima kasih sudah berkunjung...

      Delete
  2. Ah, senangnya dari kecil si bocil sudah dikenalkan buah dan dia juga suka buah. Jangan kayak aku yang baru sadar dan senang makan buah justru pas sudah tua begini. Huft.

    ReplyDelete
  3. Zahir pemilih kalau makan buah. Senangnya Sita makan buahnya gak pilih-pilih. :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. lebih kepada apapun yg disuapin emaknya (apalagi disambi main) pasti masuk :)))

      Delete
  4. Saya baru ngeh dgn tokoh fishleg itu, saya ga begitu hapal nama karakter2nya padahal itu salah satu film favorit saya

    Soal buah nenas, saya sependapat pokoknya. Hidup nastar! 🤘

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

DILAN 1990, DILAN 1991, dan MILEA

"Jangan datang ke perempuan untuk membuat dia mau, tapi datanglah ke perempuan untuk membuat dia senang."

Saya hari ini sudah menyelesaikan buku MILEA-nya Pidi Baiq versi soft-reading (jangan tanya dapat dari mana!) setelah saya penasaran begitu buku itu keluar. Budget buku saya lagi dikurangi. Hahahaha.

Saya membeli Dilan 1990 dan Dilan 1991 secara terpisah, yang satu di toko buku di kota saya dengan diskon, dan yang satu lagi dengan dalih lagi-lagi penasaran akan kelanjutannya, saya pesan online dengan diskon juga. Ketika Milea keluar, saya hampir mau membeli ikutan PO, tapi saya nggak butuh CDnya. Akhirnya nggak jadi. Begini dan begitu, ini dan itu, akhirnya saya membaca Milea. Setelah selesai membaca Milea, apakah Ayah Pidi akan mengeluarkan buku lanjutan Dilan-Milea lain? Soalnya Milea kan sudah mau tunangan dan Dilan sudah punya pacar yang juga dia pikirkan selalu.Ups....

Saya kaget waktu membaca Milea di awal karena ternyata Milea ini dari sudut pandang Dilan, dan dua…

RIUH JAGAD MAYA

Setelah pilkada Jakarta usai, ternyata keriuhan jagad maya belum selesai.
Wow banget kaka... salut sama kamu-kamu-kamu yang tiada henti entah menebar fakta atau isu atau sekedar pendapat dan pemikirannya atau malah fitnah (na'udzubullah) di jagad maya. Konsistensi yang luar biasa.... *standing applause*
Seakan-akan energimu tiada habisnya untuk mencari dan mencari, sebar dan membagi.
Coba energimu dialihkan untuk lebih keras mencari jodoh dan menggenapkan setengah dien. #eh
Coba energimu dialihkan untuk  mencari keahlian baru yang bisa berguna untuk nambahin CV atau sekedar keterampilan kerja dan kreatifitas. #uh-huh
Coba energimu digunakan untuk berbaikan dengan teman-temanmu yang terputus silaturahminya karena satu atau dua kata yang menyulut pertengkaran yang sesungguhnya tidak penting dan merugikan. #udahsipbelum?
Coba, lagi, energimu digunakan untuk mencari uang lebih banyak supaya bisa mencari restoran yang murah dan enak supaya bisa traktir keluarga besarmu. #yanginisipbange…

SCURVY

SCURVY. Pernah dengar sebelumnya? Nggak? Saya juga tadinya belum pernah baru dengar. :-D Gara-gara cerpen yang saya buat, saya jadi tahu kata ini, SCURVY, beserta arti lainnya. Kalau menurut terjemahan Om Gugel, SCURVY ini artinya CURANG. Curang itu contohnya seperti ini, "Hati-hati awas jatuh ke CURANG!", atau seperti ini, "Tolong tambahkan uang saku bulanan aku donk Pa, CURANG nih buat jajan.".  Garink?  Yes, I Am! :-P
Kali ini saya bukan membahas mengenai SCURVY=CURANG. Ada SCURVY yang lain. SCURVY yang berarti adalah defisiensi vitamin C. Wow! Saya kira tadinya kalau kekurangan vitamin ya namanya hanya avitaminosis. Ternyata, yang ini ada nama penyakitnya! SCURVY. Mau tau lebih lanjut? Enjoy this writing!