Skip to main content

IMO : TYPO

"Dia butuh tahu, bagaimana caranya berhenti peduli pada orang yang selalu ada di pikiranmu sepanjang waktu? Pada orang yang namanya terasa manis di lidah setiap kali diucapkan, pada orang yang mendorongmu menjadi pribadi yang lebih baik. Pada sosok yang membuatmu sadar betapa selama ini kau kehilangan sesuatu yang penting di hidupmu."

 Awwwww....so sweet....
Oh, hay, selamat bulan Februari ya kawans. Saya pikir, saya akan gagal dalam tantangan 30 hari menulis blognya. Kendala terbesar adalah saya tidak menemukan waktu yang agak panjang untuk bisa menulis runut dan mudah dipahami. Padahal, menulis kan salah satu kegiatan untuk membuat otak tetap pada alur runut dan terorganisir dengan baik. *kata siapa coba?*

Karena postingan untuk tantangan 30 hari menulis blog sedang macet, saya akan menulis yang cepat selesai. Review buku. Tulisan ini dibuat seenak jidat, tolong jangan dijadikan referensi untuk ditautkan ke link pembaca yang budiman, apalgi jurnal-jurnal ilmiah.

Buku fiksi pertama yang selesai saya baca tahun ini adalah TYPO dari Christian Simamora. Padahal sebelumnya saya lagi baca bukunya mas Jo.Stroud, saya terdistraksi. Ini buku mas Chrismor pertama saya, dan saya menasbihkan, kalau isi bukunya mirip-mirip seperti yang saya baca ini, saya ngga mau koleksi buku beliau. Alasannya? Genre yang dia tulis saya nikmati bersama kawan-kawan SMA, yaitu buku-buku seri Harlequin yang rutin dibawa oleh seorang kawan untuk dibaca beramai-ramai. So, buat saya sekarang membaca buku genre ini sudah lewat antusiasmenya. *emang genrenya apa?* Elah, itu udah disebutin, Harlequin.... tapi Harlequin Indonesia.
Ini juga geh bacanya nyuri-nyuri ya, tidak patut untuk dicontoh! Hahahaha.

dari sini
Blurb :
Di usianya yang keempatbelas tahun, MAisie Varma dijodohkan dengan Josh MAllick oleh kedua ayah mereka. Meskipun sama-sama tak suka dengan keputusan sepihak itu, Mai dan Josh memutuskan untuk beradaptasi dengan satu sama lain ketimbang membangun nyali untuk menentangnya. Tapi kemudian, di malam pergantian tahun, Oma Josh yang baru saja mendengar tentang perjodohan itu langsung protes keras. BUkan itu saja, beliau juga memaksa para ayah untuk membatalkan pertunangan malam itu juga, Semuanya pun kembali seperti semula, kecuali bagi Mai. Dia sungguh-sungguh tak menyangka, status tunangan Josh selama bebrapa hari membuatnya jatuh cinta untuk pertama kali pertama. Novel #jboyfriend kali ini merupakan kronologis cinta putri satu-satunya keluarga Varma. Tentang gelenyar yang membungkus perasaan Mai dalam bahagia, juga tentang hal-hal manis yang membuat pipinya sering merona merah. Novel ini juga akan bercerita banyak tentang anak bungsu keluarga Mallick. Si mantan tunangan yang bertanggung jawab membuat Mai jatuh hati sekali lagi, juga yang mengingatkannya bahwa perasaan itu tak lebih dari sekedar typo. Kesalahan hati yang harus Mai koreksi. Selamat jatuh cinta.

IMO : *spoiler alerts*
Dari latar belakang tokoh yang diangkat, dengan semua kemewahan ala-ala pengusaha milyarder (bapaknya sih), karakter tokoh yang dibangun kuat, setting tempat juga mendukung. Namun, saya pribadi kurang suka dengan karakter heroine (karena mau nulis tokoh utama wanita itu terlalu panjang (dan harus ada penejelasan)) di buku ini. Mengapa? Karena dia labil, walaupun diklaim oleh si penulis di bab berapa lewat tokoh sahabat cewek utama kalau heroine kita emang baperan, levelnya beda. Jadi ceritanya si Mai ini disuruh buat projek bareng sama Josh soal pengembangan hotel kedua ayah mereka. Seperti Blurb di atas, tunangan beberapa hari itu membuat mereka ada 'rasa'. Dan rasa itu kembali ketika mereka bekerja sama. Sounds common, yeup! Kemudian mereka balapan renang dengan membuat taruhan, siapa yang kalah harus menuruti yang menang. Singkat cerita, si Mai ini menang ya... Dan dia meminta sesuatu yang menurut saya ngga cocok gitu sama karakter yang dibangun di awal cerita. (Atau karena saya salah baca ya? Koreksi please...) Kan berasa begok gitu saya sebagai pembaca. Serasa itu teh orang lain...
Lalu, ketika semuanya makin rumit (baca : perasaan sesungguhnya muncul ke permukaan ketika lo sebagai pemilik hati bahkan ngga siap dengan konsekensi pilihan yang jelas-jelas lo paparkan secara gamblang dengan partner in crime), karakter si Mai ini menjadi semacam bitches (ups, sorry....) yang buat aku geleng-geleng kepala (baca : menuntut secara EKSPLISIT kepada partner in crime untuk memiliki perasaan yang sama seperti yang dia rasakan, yang mana sangat kontra diktif dengan perjanjian awal dengan sang partner, yang kemudian berakhir dengan dia ngambek (kalau ngga mau dibilang menjauhi si partner setelah menilai sang partner seenak jidatnya dia)). Kok gini sih heroinenya??? Emang dari awal yang siapa yang ngajak taruhan? Emang dari awal siapa yang minta macem-macem kayak ngga paham aja itu partnernya kayak apa? Mungkin dari sinilah judul bukunya TYPO. Tapi saya gagal paham dengan quotesnya "Two typos can make a right.", kalo typonya dua bukannya jadi banyak ya salahnya? #ehapagimana?
Oh, saya menjadi pembaca yang banyak menuntut.... *deep sigh*
Hal lain yang saya sayangkan, selain karakter heroinenya yang nganu, adalah banyaknya adegan vulgar yang digambarkan dengan gamblang yang menurut saya ngga pantas untuk anak remaja. Yes, saya tekankan ya, REMAJA! Dewasa awal juga sih... Walaupun di belakang bukunya tulisannya NOVEL DEWASA, teuteup weh kalo liat dari animo netizen, yang baca banyak juga anak remajanya. Kalau dulu baca bukunya kang EkaK Cantik itu Luka saya bilang capek karena banyak vulgarnya, capeknya lebih ke ngilu. Kalau baca buku ini tuh, vulgarnya lebih ke mengernyitkan kening, alias rada-rada ji***. Mengapa ya? Beda gitu feelnya. Jadi untuk para pembaca yang budiman, kalau melihat adik-adiknya, keponakan-keponakannya memegang buku ini, diwanti-wanti ya.... For the safest way to educate our children. Bukan melarang, tapi rasanya belum pas saja waktunya untuk baca genre ini.

*apa iya ngga ada bagusnya?*
Oh, ada! Saya suka banget sama karakter sahabat heroinenya. Si Che ini ceritanya adalah fashion blogger yang kemudian sukses merambah ke dunia fashion secara lebih luas dan terbuka. Si Che ini mengejar passionnya dengan sungguh-sungguh sampai dia sukses. Malah saya kemal (kepo maksimal, red) kira-kira kalau dia yang jadi tokoh utama kayaknya seru nih ceritanya! Soalnya si Che ini, a very bestgirlfriend a girl can ever get. Mengapa? Baca sendiri ya dengan warning disebutkan sebelumnya. Hal lain yang saya suka adalah karakter heronya, Josh, bukan, bukan karena dia digambarkan super perfect dengan badan yang juga perfect kecuali untuk urusan yang di bawah perut. Saya suka karena dia konsisten menjadi asshole sampai akhir. Akhirnya yang mana? Akhirnya adalah ketika dia duluan menyadari perasaan TYPO di dalam hatinya ke si Mai, dan dia bersungguh-sungguh mencintai si Mai. Dan karena itu adalah sebuah perasaan yang baru buat dia (ya ngga baru-baru amat sih), dia bingung itu mau diapain, tambah bingung karena si Mai ngambeg karena perjanjian yang dibuatnya sendiri. He's a dude, girl! Otak lebih jalan dari hati.

Intinya mah buku ini, kalau ngga siap sama resikonya lebih baik ngga usa mempermainkan hati sendiri, apalagi hati orang lain. Gitu sih kurang lebih.... Saya nilai buku ini 2 dari 5 ya, 1 buat si Che dan Josh, 1 buat bagian ketika si ayah-ayah itu lagi study banding ke Hotel Hershey. Sekian.

XOXO,
Relationship isn't about who you can see your life with, but who you cant see your life without.

Nb : jangan dihitung ada berapa typo tulisan saya di atas ya, please?

Comments

  1. Padahal, menulis kan salah satu kegiatan untuk membuat otak tetap pada alur runut dan terorganisir dengan baik. *kata siapa coba?*

    Kataku kataku! Halah. Ngaku-ngaku.

    Btw, untuk bukunya sendiri, aku gak pernah selera untuk baca buku-buku kayak begini. Sekian.

    ReplyDelete
    Replies
    1. duluuu.... Dulu ya, jaman sma tuh bacaan harlequin itu semacam pelepas stres buat cewek2 aksel 😂😂😂😂😂

      Delete
  2. Pada paragraf ke empat baris ke tujuh itu sebenernya menasbihkan apa menahbiskan sih? Seriusan nanya karena ga ngerti penggunaan istilah itu

    Bagian vulgarnya itu, tergantung imajinasi pembacanya juga sih, tp belum cukup utk bikin saya penasaran sih #lah

    Quote di bagian akhir tulisan itu ngutip darimana? Atau memang kesimpulan sendiri, mohon diperjelas.

    Komentar saya rada serius sekali, ckck

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yg bener menahbiskan, typo detected. Hahaha. Kan ngga aku spoiler juga om bagian vulgarnya... 😅
      Quote yg abis xoxo ya, ambil dr buku kok.... Toh artinya sami mawon, hahaha.

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

DILAN 1990, DILAN 1991, dan MILEA

"Jangan datang ke perempuan untuk membuat dia mau, tapi datanglah ke perempuan untuk membuat dia senang."

Saya hari ini sudah menyelesaikan buku MILEA-nya Pidi Baiq versi soft-reading (jangan tanya dapat dari mana!) setelah saya penasaran begitu buku itu keluar. Budget buku saya lagi dikurangi. Hahahaha.

Saya membeli Dilan 1990 dan Dilan 1991 secara terpisah, yang satu di toko buku di kota saya dengan diskon, dan yang satu lagi dengan dalih lagi-lagi penasaran akan kelanjutannya, saya pesan online dengan diskon juga. Ketika Milea keluar, saya hampir mau membeli ikutan PO, tapi saya nggak butuh CDnya. Akhirnya nggak jadi. Begini dan begitu, ini dan itu, akhirnya saya membaca Milea. Setelah selesai membaca Milea, apakah Ayah Pidi akan mengeluarkan buku lanjutan Dilan-Milea lain? Soalnya Milea kan sudah mau tunangan dan Dilan sudah punya pacar yang juga dia pikirkan selalu.Ups....

Saya kaget waktu membaca Milea di awal karena ternyata Milea ini dari sudut pandang Dilan, dan dua…

RIUH JAGAD MAYA

Setelah pilkada Jakarta usai, ternyata keriuhan jagad maya belum selesai.
Wow banget kaka... salut sama kamu-kamu-kamu yang tiada henti entah menebar fakta atau isu atau sekedar pendapat dan pemikirannya atau malah fitnah (na'udzubullah) di jagad maya. Konsistensi yang luar biasa.... *standing applause*
Seakan-akan energimu tiada habisnya untuk mencari dan mencari, sebar dan membagi.
Coba energimu dialihkan untuk lebih keras mencari jodoh dan menggenapkan setengah dien. #eh
Coba energimu dialihkan untuk  mencari keahlian baru yang bisa berguna untuk nambahin CV atau sekedar keterampilan kerja dan kreatifitas. #uh-huh
Coba energimu digunakan untuk berbaikan dengan teman-temanmu yang terputus silaturahminya karena satu atau dua kata yang menyulut pertengkaran yang sesungguhnya tidak penting dan merugikan. #udahsipbelum?
Coba, lagi, energimu digunakan untuk mencari uang lebih banyak supaya bisa mencari restoran yang murah dan enak supaya bisa traktir keluarga besarmu. #yanginisipbange…

SCURVY

SCURVY. Pernah dengar sebelumnya? Nggak? Saya juga tadinya belum pernah baru dengar. :-D Gara-gara cerpen yang saya buat, saya jadi tahu kata ini, SCURVY, beserta arti lainnya. Kalau menurut terjemahan Om Gugel, SCURVY ini artinya CURANG. Curang itu contohnya seperti ini, "Hati-hati awas jatuh ke CURANG!", atau seperti ini, "Tolong tambahkan uang saku bulanan aku donk Pa, CURANG nih buat jajan.".  Garink?  Yes, I Am! :-P
Kali ini saya bukan membahas mengenai SCURVY=CURANG. Ada SCURVY yang lain. SCURVY yang berarti adalah defisiensi vitamin C. Wow! Saya kira tadinya kalau kekurangan vitamin ya namanya hanya avitaminosis. Ternyata, yang ini ada nama penyakitnya! SCURVY. Mau tau lebih lanjut? Enjoy this writing!