Skip to main content

OLEH-OLEH BANDUNG (1) : Assesment Center


Dear Pembaca yang budiman,

Tulisan ini sudah mangkrak lama di Drafts saya. Maka perkenankanlah saya mempersembahkan sesuatu yang (mungkin) telah dinanti-nantikan.

Bandar Lampung, 22 Februari 2017
Masih hangat dalam ingatan seminggu kemarin saya ngapain aja di Bandung. Saya berangkat tanggal 12 Februari naik pesawat pagi jam setengah 9 dan kembali ke Bandar Lampung tanggal 19 Februari dengan pesawat siang jam setengah 1, sampai setengah 3 di rumah dengan selamat. Perjalanan saya ke Bandung sudah saya tuliskan di postingan sebelumnya disini.

Ngapain aja sih di Bandung?
Yah... mostly belajar. Serius. Belajar tentang Assesment Center, dan belajar yang benar-benar belajar. Setelah sekian lama saya mengalami belajar yang sesungguhnya, seminggu ini otak saya kembali merasakan sensasi keseriusan belajar. *halah, padahal mah main jeee...*

Jadwal belajar padat. Serius. Masuk jam 8 keluar jam 6. Ngalah-ngalahin anak sekolah beneran. Ya nggak heran sih, wong namanya pelatihan, ngga mungkin kan dibuat 1 semester. Kalau dibuat 1 semester, nanti malah jadi lanjut kuliah S2 semua. Ya saya sih ngga keberatan... Ha-ha-ha.

Bentar ini mau diceritain apanya sih?
Tentang ilmu yang saya dapat?
Panjang lhoo... bisa 7 hari 7 malam nulisnya... Hahahahahaha.

Assesment Center.
Siapa yang berpikir assesment center itu adalah sebuah pusat atau tempat? Jujur! Yak, satu dua tiga... ada ternyata... Hehehe. Salaaaahhhhh...
Assesment Center itu adalah SUATU METODE. Catet, SUATU CARA. Bukan tempat atau pusat untuk mengadakan assesment. Nah, Mengapa disebut Assesment Center? Karena dia menggabungkan beberapa cara tools dan khusus untuk mengukur kemampuan manajerial. Bukan psikologis seperti yang biasa dilakukan dengan psikotes.
Assesment center yang benar  menggunakan kaidah-kaidah tertentu, salah satunya misalnya adalah 1 asesor maksimal mengobservasi 2 asessee. Tidak seperti yang dilakukan 2 tahun lalu di instansi saya. Hahaha. (buka aib sendiri, tutup mata ajah) Kemudian, AC memiliki batas waktu yaitu 2 tahun. Mengapa? Karena kemampuan manajerial seseorang berubah, tergantung pengalaman, tergantung pelatihan, tergantung interaksinya di kantor. Makanya akan lebih baik jika dilakukan pengukuran ulang secara berkala, yaitu 2 tahun.
Bagaimana mengukurnya? Dengan melakukan pengukuran terhadap kompetensi-kompetensi jabatan terhadap orang yang akan menempati jabatan tertentu. Pengukuran dilakukan dengan berbagai  tools yang diberikan kepada orang tersebut. Apa tugas asesor? Mencatat. Iya, MENCATAT VERBATIM, apa-apa saya yang terjadi pada asesee selama dia mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh tools. Toolsnya apa saja? Namanya banyak, bermacam-macam, in basket, leaderless group discussion, wawancara in basket, roleplay, dan lain-lain. Bagaimana menggunakannya? Gugel sanah, biar nambah ilmunya...

Buat apa sih belajar hal-hal beginian?
Buat baca hasil Assesment Center yang sudah kami lakukan tahun 2015 yang lalu. Karena konon kabarnya instansi mau rombak organisasi gede-gede-an, maka kami sebagai sarjana Psikologi yang direkrut tahun 2010 harus menjadi bagian dalam penempatan person sesuai kompetensi dan peta jabatan yang tersedia. #eaaa 
Nyatanya, itu peserta pelatihan separonya isinya Eselon IV dong, da saya, dan ketiga kawan lain, mah apa atuh... Cuma remahan roti, jatuh, terus keinjek. Kata Mbak Kimi, saya sih ngga bilang gitu...
Hahahahaha.


Setiap hari kami pulang jam 6, tepat sebelum azan Maghrib berkumandang, paling cepat setengah 6 lewat. Dan itu masih membawa pulang pe-er-per-er untuk diselesaikan di rumah. Yes, Pe-eR. Apa bentuknya? menyelesaikan catatan-catatan verbatim dan melakukan klasifikasi dari perilaku-perilaku tercatat yang muncul.
Malangnya untuk saya. Saya bukan orang yang bisa dapat pe-er banyak-banyak begitu. Apalagi setelah seharian, pagi sampai petang menerima materi yang padat karya, masih harus membuat pe-er malamnya. Saya nggak bisa.
Hahaha. *Terus ngga buat pe-er dong?*

Saya kerjakan. Setelah proses relaksasi panjang yag memungkinkan otak saya bekerja kembali. Otak saya ngga bisa dipaksa belajar dalam kondisi kelelahan, mending tidur. Jadi begitu pulang ke hotel, bersih-bersih, makan malam, saya ngga akan menyentuh pe-er. Saya akan menghibur diri terlebih dulu. Ketika teman saya sibuk mengerjakan tugas, saya gegoleran denger musik nyanyi kenceng-kenceng (duh, maap ya Kak Kiki... Hahaha) nonton HBO, baca novel yang saya bawa dari rumah, pokoknya apapun untuk mengembalikan otak saya ke kondisi alpha. Termasuk memaksa teman sekamar saya untuk jalan-jalan menghirup udara segar dengan berbelanja di SetiabudiMart, dan saya menemukan Haryy Potter 8. Saya beli juga tentunya. Atau mengajak teman di kamar lain untuk jalan-jalan ke Gramedia mencari komik. Hahaha. Kemudian, ketika teman sekamar saya tidur, barulah saya bekerja. Teman sekamar saya nampaknya memang tidak bisa begadangan sih, padahal kawan-kawan di kamar lain banyak juga yang begadangan. Buktinya roomchat kami masih suka bunyi di jam 1 atau 2 dini hari. Hahaha.

Pembukaan, ada Pak Bony mampir bentar doang.. Hehe.

hari pertama, saya dimana hayo?
Presentasi hasil klasifikasi.

Catatan Verbatim saya *tutup mata*

Nyari ruang buat kerja bersama, ngga ada lampunya. Heuheu.

Sampe tidur pak Ketua Kelasnya. Itu saya di belakang abis dari Gramed sebelum lanjut buat tugas.

Hari Terakhir, eh ada saya!
Buat Laporan akhir.
  
Sama Bu Leyla, mentornya.


Dulu waktu sekolah pun, ketika pulang dalam keadaan lelah, mending saya langsung istirahat. Kemudian saya bangun jam 4 untuk buat pe-er. Ini lebih efektif daripada harus begadangan terkantuk-kantuk menyelesaikan pe-er. Saya mah gitu orangnya....

Malam terakhir kami berencana untuk makan malam sekelas, tapi ngga jadi. Karena pak Ketua kelasnya sudah pulang duluan. Akhirul cerita, malam terakhir kami jalan-jalan di Teras Cihampelas yang baru dibuat tahun lalu. Keren deh! Cekidot poto-potonya. Setelah jalan-jalan di Cihampelas, kita lanjut beli oleh-oleh ke Jalan Dago, apalagi kalau bukan Kartika Sari. Hahaha. Selebihnya... di postingan selanjutnya. Yang mana menurut saya lebih 'berasa'.

 








XOXO,

Punten untuk semua foto yang ngga fokus, Lol.
Punten untuk yang punya poto, karena saya ngga ambil sendiri potonya.
Punten kalau saya masih kangen Bandung. Hahaha.

Comments

  1. Iya bener njenengan keliatan paling tinggi di foto2 itu ^lospokus

    ReplyDelete
    Replies
    1. lospokus-nya nganu banget deh om... -__-

      Delete
  2. Saya tadi termasuk yang nunjuk pas ditanya soal AC itu tempat, loh Bu Gulu!

    ReplyDelete
    Replies
    1. bagooosss.... Sekarang sudah tercerahkan yaaaa....

      Delete
    2. Iya harusnya center itu merujuk pada tempat, istilah assesment center itu harua diganti karena menipu banyak khalayak ramai 😐

      Delete
    3. Secara harfiah ya, tapi terjemahan bebas sih kumpulan asesmen, hahaha. Karena isinya AC ya tools assesment.

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

DILAN 1990, DILAN 1991, dan MILEA

"Jangan datang ke perempuan untuk membuat dia mau, tapi datanglah ke perempuan untuk membuat dia senang."

Saya hari ini sudah menyelesaikan buku MILEA-nya Pidi Baiq versi soft-reading (jangan tanya dapat dari mana!) setelah saya penasaran begitu buku itu keluar. Budget buku saya lagi dikurangi. Hahahaha.

Saya membeli Dilan 1990 dan Dilan 1991 secara terpisah, yang satu di toko buku di kota saya dengan diskon, dan yang satu lagi dengan dalih lagi-lagi penasaran akan kelanjutannya, saya pesan online dengan diskon juga. Ketika Milea keluar, saya hampir mau membeli ikutan PO, tapi saya nggak butuh CDnya. Akhirnya nggak jadi. Begini dan begitu, ini dan itu, akhirnya saya membaca Milea. Setelah selesai membaca Milea, apakah Ayah Pidi akan mengeluarkan buku lanjutan Dilan-Milea lain? Soalnya Milea kan sudah mau tunangan dan Dilan sudah punya pacar yang juga dia pikirkan selalu.Ups....

Saya kaget waktu membaca Milea di awal karena ternyata Milea ini dari sudut pandang Dilan, dan dua…

RIUH JAGAD MAYA

Setelah pilkada Jakarta usai, ternyata keriuhan jagad maya belum selesai.
Wow banget kaka... salut sama kamu-kamu-kamu yang tiada henti entah menebar fakta atau isu atau sekedar pendapat dan pemikirannya atau malah fitnah (na'udzubullah) di jagad maya. Konsistensi yang luar biasa.... *standing applause*
Seakan-akan energimu tiada habisnya untuk mencari dan mencari, sebar dan membagi.
Coba energimu dialihkan untuk lebih keras mencari jodoh dan menggenapkan setengah dien. #eh
Coba energimu dialihkan untuk  mencari keahlian baru yang bisa berguna untuk nambahin CV atau sekedar keterampilan kerja dan kreatifitas. #uh-huh
Coba energimu digunakan untuk berbaikan dengan teman-temanmu yang terputus silaturahminya karena satu atau dua kata yang menyulut pertengkaran yang sesungguhnya tidak penting dan merugikan. #udahsipbelum?
Coba, lagi, energimu digunakan untuk mencari uang lebih banyak supaya bisa mencari restoran yang murah dan enak supaya bisa traktir keluarga besarmu. #yanginisipbange…

SCURVY

SCURVY. Pernah dengar sebelumnya? Nggak? Saya juga tadinya belum pernah baru dengar. :-D Gara-gara cerpen yang saya buat, saya jadi tahu kata ini, SCURVY, beserta arti lainnya. Kalau menurut terjemahan Om Gugel, SCURVY ini artinya CURANG. Curang itu contohnya seperti ini, "Hati-hati awas jatuh ke CURANG!", atau seperti ini, "Tolong tambahkan uang saku bulanan aku donk Pa, CURANG nih buat jajan.".  Garink?  Yes, I Am! :-P
Kali ini saya bukan membahas mengenai SCURVY=CURANG. Ada SCURVY yang lain. SCURVY yang berarti adalah defisiensi vitamin C. Wow! Saya kira tadinya kalau kekurangan vitamin ya namanya hanya avitaminosis. Ternyata, yang ini ada nama penyakitnya! SCURVY. Mau tau lebih lanjut? Enjoy this writing!