Skip to main content

[REVIEW] SATU MATA PANAH PADA KOMPAS YANG BUTA

Setelah review ngga niat kemaren, hahahaha, karena intinya cuma pengen nulis sesuatu tentang Cinder yang aduhai ngga nahan keren gitu karakternya tapi ntah mau nulis apa juga ga paham, sekarang saya membawa satu buku yang saya dapat secara gratisan. Semoga reviewnya ngga kalah sama yang sebelumnya. Hahahaha-lagi.

Judul : Satu Mata Panah Pada Kompas Yang Buta
Penulis : Suarcani
Penerbit : Jendela O Publishing House
Jumlah halaman : 224
Waktu menyelesaikan : 2 siang.
Asal : Dikirimin Mbak Anggi.
Blurb : Kompasmu, apakah kamu memperhatikannya? Ada dua arah di sana. Utara dan Selatan. Sama halnya seperti matamu sendiri, arah itu akan menyelamatkanmu dari kesesatan. Tapi, kompas milikku buta. Tidak ada utara selatan dalam hidupku, semua hanyut dalam ketakutan dan masa lalu. Lima belas tahun penjara mencuri jarum kompasku dan setelah bebas, aku pun masih belum tahu ke mana arah hidupku. Aku pembunuh, korban hasrat yang menyimpang. Dunia luar menungguku, berpura-pura menyambutku dengan semarak, untuk kemudian kembali meremukkanku dalam ketakutan. Aku butuh jalan, butuh mata kompasku.
Apakah kamu bisa membantuku menemukannya? Aku Ravit, bekas tahanan yang kini kembali terpenjara rasa takut.

Kata saya :
Ravit baru keluar dari penjara, yang menjemputnya adalah Om Rus. Tidak ada Papa, papa meninggal ketika Ravit masih kecil. Tidak ada Mama, Mama meninggal ketika Ravit masih di penjara. Hanya ada Om Rus,yang dengan penuh kasih sayang menerimanya sepenuh hati.. Yang mengirimnya ke Bali juga Om Rus.
Apa artinya kebebasan ini jika pada akhirnya aku kembali dipenjara oleh ketakutan? Ini adalah pertanyaan yang mengusik Ravit kemanapun dia pergi setelah keluar dari penjara. Di rumah Om Rus, berjalan di tempat umum, mengunjungi rumah lamanya, di kos-kosannya, semua itu membuat Ravit ketakutan. Ravit merasa semua orang melihatnya dengan pandangan menusuk yang membuatnya makin ciut dan mengurung diri di dalam kamar. Kemudian Ravit menerima tawaran Om Rus untuk berangkat ke Bali. Ravit berangkat hanya dengan sebuah tas ransel dengan sepotong baju ganti yang terus dia bawa sejak lima belas tahun yang lalu, ransel yang menemaninya masuk penjara. Tentu saja Om Rus yang baik memberinya bekal beberapa rupiah. Menurut Om Rus, Ravit butuh ke tempat baru dimana dia bisa bersantai dan memikirkan baik-baik apa yang akan Ravit lakukan dalam hidupnya.
Baru sampai di Bali, Ravit sudah mengalami serangan trauma, dia muntah ketika supir taksinya menawarinya permen. Ravit pesimis, apakah Bali bisa memberikan dia ketentraman? Sampai dia bertemu Urvashi, Uci, pemandu tur wisata dimana Ravit terdaftar sebagai peserta. Uci bersikap sinis terhadap Ravit yang sangat terlihat tidak memiliki keinginan untuk hidup. Apalagi Ravit menimbulkan insiden di dalam bus yang menyebabkan Uci harus menemani Ravit seharian di rumah sakit. "Bali itu punya jawaban dari semua pertanyaan." kata Uci ketika Ravit pesimis dengan mitos bahwa Bali bisa memberikan apapun yang diinginkan seseorang. "Sejatinya semua itu berawal dari satu titik, ketidaktahuan. Umpamakan saja kita berada di satu koordinat, dengan banyak pilihan arah yang bisa kita tempuh. Setiap arah akan membawa kita ke satu jawaban, hanya saja, manusia kadang tidak tahu apa yang sebenarnya mereka tanyakan.". Ravit pun mencurigai Uci, siapakah Uci yang sebenarnya?
Perjalanan. Tema besarnya mungkin adalah perjalanan manusia. Ravit mengalami kejadian traumatis sampai-sampai dia membunuh dan akhirnya masuk penjara. Perasaan-perasaan Ravit setelah keluar dari penjara benar-benar nyata terasa oleh saya. Takut, cemas, bingung, terkungkung, merasa tidak berguna sebagai seorang residivis bercampur perasaan-perasaan traumatik terhadap manusia-manusia lain yang berpotensi sebagai ancaman dalam hidupnya. Berat sekali membaca emosi-emosi Ravit ketika berhadapan dengan dunia luar, tapi terasa pas dengan situasi kondisi karakternya. Apa yang dirasakan Ravit membuat dia tersesat. Kemudian Ravit 'dikirim' dan bertemu Uci yang menawarkan perjalanan wisata pribadi untuk membantu Ravit menemukan jawaban. Uci membawa Ravit berkeliling tempat-tempat eksotis Bali yang sarat dengan keadaan spiritual. Ravit pun mengalami pengalaman luar biasa dari diajari mandi yang benar, kesurupan, belajar bernapas lewat meditasi, sampai akhrinya bagaimana menyukai diri sendiri. Mungkin sebagai orang awam yang berwisata apa yang dijalani Ravit  menjadi biasa saja, kecuali bagian kesurupan. Alur ceritanya cepat dari satu tempat ke tempat ke yang lain dengan dialog-dialog yang tidak berbasa-basi antara Ravit dan Uci. Namun, pengalaman Ravit menjadi nyata oleh saya karena Ravit adalah orang dewasa namun dalamnya adalah remaja. Ingat kan Ravit dulunya adalah tahanan remaja. Ravit memendam memiliki rasa ingin tahu yang besar yang membuat dai tidak berhenti mengikuti Uci.
Uci adalah tokoh yang sangat misterius. Seakan-akan dia ada disana hanya untuk Ravit. Yang lain ngontrak. Kemisteriusan yang dibawa Uci membuat saya betah membaca buku ini. Karena buku perjalanan yang ngga ada misterinya itu seperti sayur ngga dikasih garam. Tokoh Uci dibuat cuek tapi memperhatikan. Saya agak gemas-gemas gimana gitu, seperti setengah-setengah mau membantu Ravit awalnya, tapi dosis bantuan yang dia berikan pas sekali untuk Ravit. Uci memberikan tur yang ngga biasa, tur spiritual. Uci tidak semerta-merta menunjukkan "Ini loh, Ravit yang harus kamu lakukan.", tapi pengalaman-pengalaman yang memberikan Ravit pembelajaran dari perspektif yang baru. Sampai Akhirnya Ravit bisa memutuskan apa yang dia lakukan dalam hidupnya.
Suarcani, penulis buku ini, mungkin memiliki latar belakang yang dekat dengan Bali karena lokasi dan keadaan yang digambarkan detil sekali. Apa yang membuat saya suka dengan buku ini adalah kisah perjalanan yang ada kisah misteri dan dibuka sedikit demi sedikit. Kalau ini hanya semerta merta kisah perjalanan, saya rasa saya akan tutup buku di tengah-tengah cerita. Seperti yang saya lakukan sama lanjutan-lanjutan buku Laskar Pelangi. Ups. Sayangnya, kisah di dalam penjara hanya terbatas informasi kognitif, berupa cerita dari apa yang Ravit lihat. Bukan yang Ravit alami. Saya beri ranking 3 dari 5.

XOXO,
pusing, udah lama ngga review panjang-panjang.

Comments

  1. Theme baru, layout baru, semangat baru? Eaaa...

    Btw, jadi keinget euy pernah bikin janji ke Mbak Anggi mau bikin Kuis Sabtu hadiahnya buku dari terbitan doski. Nanti deh. Kapan-kapan. Lah. Niat atau nggak sih ini. ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. ckckckckckck... mba anggi, jitakin aja nih si kimi...

      Delete
  2. kadang, yang baru-baru itu nganu banget lhooo...

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

DILAN 1990, DILAN 1991, dan MILEA

"Jangan datang ke perempuan untuk membuat dia mau, tapi datanglah ke perempuan untuk membuat dia senang."

Saya hari ini sudah menyelesaikan buku MILEA-nya Pidi Baiq versi soft-reading (jangan tanya dapat dari mana!) setelah saya penasaran begitu buku itu keluar. Budget buku saya lagi dikurangi. Hahahaha.

Saya membeli Dilan 1990 dan Dilan 1991 secara terpisah, yang satu di toko buku di kota saya dengan diskon, dan yang satu lagi dengan dalih lagi-lagi penasaran akan kelanjutannya, saya pesan online dengan diskon juga. Ketika Milea keluar, saya hampir mau membeli ikutan PO, tapi saya nggak butuh CDnya. Akhirnya nggak jadi. Begini dan begitu, ini dan itu, akhirnya saya membaca Milea. Setelah selesai membaca Milea, apakah Ayah Pidi akan mengeluarkan buku lanjutan Dilan-Milea lain? Soalnya Milea kan sudah mau tunangan dan Dilan sudah punya pacar yang juga dia pikirkan selalu.Ups....

Saya kaget waktu membaca Milea di awal karena ternyata Milea ini dari sudut pandang Dilan, dan dua…

RIUH JAGAD MAYA

Setelah pilkada Jakarta usai, ternyata keriuhan jagad maya belum selesai.
Wow banget kaka... salut sama kamu-kamu-kamu yang tiada henti entah menebar fakta atau isu atau sekedar pendapat dan pemikirannya atau malah fitnah (na'udzubullah) di jagad maya. Konsistensi yang luar biasa.... *standing applause*
Seakan-akan energimu tiada habisnya untuk mencari dan mencari, sebar dan membagi.
Coba energimu dialihkan untuk lebih keras mencari jodoh dan menggenapkan setengah dien. #eh
Coba energimu dialihkan untuk  mencari keahlian baru yang bisa berguna untuk nambahin CV atau sekedar keterampilan kerja dan kreatifitas. #uh-huh
Coba energimu digunakan untuk berbaikan dengan teman-temanmu yang terputus silaturahminya karena satu atau dua kata yang menyulut pertengkaran yang sesungguhnya tidak penting dan merugikan. #udahsipbelum?
Coba, lagi, energimu digunakan untuk mencari uang lebih banyak supaya bisa mencari restoran yang murah dan enak supaya bisa traktir keluarga besarmu. #yanginisipbange…

SCURVY

SCURVY. Pernah dengar sebelumnya? Nggak? Saya juga tadinya belum pernah baru dengar. :-D Gara-gara cerpen yang saya buat, saya jadi tahu kata ini, SCURVY, beserta arti lainnya. Kalau menurut terjemahan Om Gugel, SCURVY ini artinya CURANG. Curang itu contohnya seperti ini, "Hati-hati awas jatuh ke CURANG!", atau seperti ini, "Tolong tambahkan uang saku bulanan aku donk Pa, CURANG nih buat jajan.".  Garink?  Yes, I Am! :-P
Kali ini saya bukan membahas mengenai SCURVY=CURANG. Ada SCURVY yang lain. SCURVY yang berarti adalah defisiensi vitamin C. Wow! Saya kira tadinya kalau kekurangan vitamin ya namanya hanya avitaminosis. Ternyata, yang ini ada nama penyakitnya! SCURVY. Mau tau lebih lanjut? Enjoy this writing!