Skip to main content

{ULASAN} BUKU 1 SERIAL ULYSSES MOORE : PINTU WAKTU



Argo Manor, sebuah nama yang aneh untuk sebuah rumah, begitulah yang dipikirkan oleh Ny.Covenant ketika melihat-lihat rumah baru mereka. Walaupun dengan penuh keheranan, dirinya tetap berdiri dengan rasa takjub dan mata yang berkedip-kedip di depan rumah barunya. Dia dan suaminya yakin bahwa anak kembarnya akan betah tinggal di rumah baru mereka ini, terutama Jason.
Tepat seperti yang diperkirakan kedua orang tuanya, Jason merasa rumah itu memiliki kekuatan yang tidak terlihat. Dia merasa rumah itu menunggu untuk ditemukan rahasianya. Jason merasa bahwa rumah itu menantangnya untuk berpetualang. Berbeda dengan saudari kembarnya, Julia sangat modern. Dia hanya percaya kepada barang-barang mahal.
Suatu hari orang tua mereka akan bepergian keluar kota. Si kembar tinggal di rumah bersama Nestor, sang penjaga, yang tua dan misterius. Selama orang tuanya pergi mereka mengundang Rick Banner, teman barunya di sekolah. Rick Banner sudah memperhatikan rumah mereka sejak lama, sejak dulu, sejak bertahun-tahun yang lalu. Argo Manor dan cerita-cerita misterius yang menyertainya bertahun-tahun, juga pemiliknya yang meninggal bertahun-tahun yang lalu, Ulysses Moore.
Nah, sekarang, siapkah kalian memasuki ruang-ruang Agro Manor dan menemukan rahasianya?

Itu adalah ringkasan 3 bab pertama buku pertama yang saya tamatkan di tahun 2018 ini.
2018? Sudah 2018?
Yayaya... New year, new days, and still with daily lyfe drama.
Aku sih bukan orang yang gegap gempita merayakan tahun baru ya, jadi menurutku, setelah tanggal 1 yang dimerahi, besoknya angka tanggal sudah hitam lagi, dan harus kembali lagi dengan kesibukan akhir (dan awal tahun), yeah…. Tidak memaknai secara khusus karena tidak merasa perlu untuk memaknainya secara khusus. Kecuali nantinya saya melahirkan di tanggal-tanggal ini, tapi yah karena kelahiran kan, bukan karena tahun baru. Okeh, random banget ini. Back to book…
Diterbitkan pertama kali tahun 2006 oleh Penerbit Erlangga (penerbit kesayangan anak sekolah se-Endonesa), saya sebagai penyuka fiksi petualangan sebenarnya sudah sangat kepo sekali sejak lama dengan buku ini. Dan baru kesampean sekarang. Well, banyak sih alasannya : 1. Bukunya mahal banget buat saya waktu itu Ngga pernah nemu harga yang cocok 2. Takut ngga cocok sama ceritanya, sama tokohnya, (Soalnya buku fiksi yang diterbitkan oleh penerbit buku pelajaran itu tidak memberikan premise yang pas buatku) 3. Bukunya banyak, terbitnya lama, nunggunya bisa jamuran, 4. Takut terjemahannya jelek.
Ya, mungkin  alasan ketiga dan keempat inilah alasan yang paling nggenah. Saya tipenya malas nunggu lama-lama tanpa ada kejelasan akan terbitnya suatu serial. Apalagi penerbitnya PT. Erlangga yang saya tahunya cuma menerbitkan buku pelajaran dengan bahan kertas yang lebih bagus dan materi serta rangkuman lengkap, jadi buku teks-nya agak mahal. Beda dengan Kompas Gramedia yang emang konsisten menerbitkan buku-buku fiksi dari pengarang yang sama sehingga kekhawatiran akan berhentinya suatu serial dan membuat kita sebagai pembaca ngenes memikirkan akhir cerita, bisa diminimalisir.
Sampai akhirnya, saya melirik-lirik deretan buku ini di seksi buku anak di Perpustakaan Daerah kami. Setelah 3 bulan menjadi anggota, akhirnya saya tergoda untuk meminjam salah satu bukunya. Dan voila, saya terjangkar! Eh, maksudnya I’m hooked! Ha.Ha.Ha. Setelah saya lihat-lihat dan hitung, disini ada 6 buku yang bisa dipinjam, sedangkan di luar sana sudah terbit 8 buku dari 12 buku aslinya. (Tuh kaaaaannn… masih lama! Lockwood yang kelima aja masih belum jelas kapan???)
So, apa yang membuat saya ter-hooked sama buku ini? Let me tell you…
1.       Argo Manor di Kilmore Cove Cornwall
“Rumah itu tiba-tiba muncul dari balik tikungan. Menara batunya mencuat seperti jari yang menunjuk ke langit. Laut berwarna biru-kelabu menjadi latar belakang rumah yang besar itu. Rumah itu bertengger di atas sebuah tebing tinggi yang menghadap ke laut. Jauh di bawah tebing, ombak berdebur menghantam karang, Udara terasa tajam dan asin. Rumah itu dikeoung birunya laut dan langit, membuatnya seolah-olah akan ditelan oleh alam sekitar. Deretan pepohonan berdiri rapi di setiap sisinya, diselingi bunga berbagai warna. Dari tepi tebing, pantai berpasir di bawah sana hampir tak terlihat. Lebih jauh lagi, terlihat teluk Kilmore Cove yang dikelilingi oleh sebuah kota dengan rumah-rumah yang dibangun berdekatan dengan laut. Setiap rumah, setiap orang, seluruh kota – seakan terpusat pada keindahan laut itu.” (hal.2)
Who’s already in love with this? *cung!*
2.       Karakter remaja yang penuh semangat untuk berpetualang.
Siapa yang suka Harry Potter? Siapa yang suka Lima Sekawan? Siapa yang suka Nathaniel dan Bartimeus? Kalau kalian suka semuanya, berarti kalian pasti suka Jason, Julia dan Rick. Di satu saat mereka saling mengejek dan menjatuhkan, di saat yang lain mereka saling mendukung dan mendorong. Dan dalam waktu singkat mereka mengenali kekuatannya masing-masing sehingga bisa memiliki kepercayaan untuk berpetualang bersama. Bahkan Julia, yang awalnya saya ragukan karena dia sangat ‘modern’, pun memiliki semangat berpetualang yang tidak kalah dengan kembarannya Jason yang memang petualang sejati. (Serius deh, si Jason ini bergerak berdasarkan insting banget, bahkan kalau saya menempatkan diri sebagai remaja pun ngga se-impulsif itu deh! Tapi, maaaannn… he’s just jump!)
3.       Misteri dan teka-teki yang terjaga kekonsistenannya.
Menurut kalian, ilustrasi Argo Manor di atas menyiratkan sedikit kemisteriusan ngga? Itu baru halaman pertama lho! Di halaman-halaman selanjutnya misteri Argo manor dan mantan pemiliknya, Ulysses Moore dikupas sedikit demi sedikit dengan menjaga konsistensi dari misteri yang mereka berikan di awal cerita. Jadi saya sebagai pembaca tidak menemukan adanya lompatan dalam cerita. Bahkan ketika ***** dan kawan-kawannya ‘berlayar’ dari Kilmore Cove ke ***** dalam badai pun saya tidak mempermasalahkan karena sebelumnya ada “Dia telah terpilih. Semua yang telah terjadi bukanlah kebetulan.”
4.       Ilustrasi yang disisipkan di setiap bab.
Saya penyuka buku cerita bergambar. Itu saja. Oh, desain buku yang dibuat hard cover (makanya mahal) juga pas banget! Soalnya seperti memiliki jurnal petualangannya Jason, Julia, dan Rick.
5.       Bagian per bagian. Kata per kata. Kalimat per kalimat.
Alur cerita tidak bertele-tele, tapi tetap detail dalam menceritakan latar. Pas bangetlah! Saya paling males baca buku yang detail tapi membosankan dan tidak ada poin pentingnya. Tapi kalau detail dan itu penting, saya sukarela bacanya. Buku ini misalnya, menyajikan detail seperti yang saya baca di buku Lockwood atau Harry Potter, detail yang semuanya penting. Contoh, deskripsi letak rumah yang saya tuliskan sebelumnya adalah poin penting yang membangun cerita di bab-bab berikutnya, adanya ngalau, adanya lorong-lorong, adanya pintu misterius (ups..). Kemudian setiap tokoh yang diperkenalkan ada kepentingannya masing-masing {crap.. ngga sengaja baca di ulasan orang lain sampai buku ke-enam terus dapet spoiler itu rasanyaaa….. @#$%^&*()(*&^%$#) }. Dan kalimat-kalimat yang sangat bisa dicuplik untuk digunakan sehari-hari. Saya suka buku yang seperti ini.. Misalnya saja,

“….., dunia ini penuh risiko dan bahaya. Begitulah Kehidupan.” (hal. 17)

“Setiap orang dihantui oleh sesuatu.” (hal. 36)

“Hal-hal seperti itu kan menarik!” (hal.139) {nb : kalimat yang sering banget saya pakai sejak kecil kalau ada yang bertanya ‘Kok kamu bisa tau sih yang kayak gitu?’}

“Seorang pahlawan tidak memilih jalan hidupnya. Ia hanya menjalaninya sampai titik akhir.” (hal. 161)

“Semua yang terjadi bukanlah kebetulan.” (hal. 169)


Dan yang paling favorit buat saya adalah :

“Dan jika sendirian, kita tidak benar-benar kuat. Aku tidak kuat, itu pasti. Kita hanyalah anak-anak. Tapi jika bersama-sama, kita dapat melakukan apa saja.” (hal 197-198)

Nah, kalau secara nilai bintang seperti buku-buku yang pernah saya bicarakan sebelumnya, saya kasih lima bintang dari lima bintang, sepuluh bintang dari sepuluh bintang. Bintang-bintang ini juga masalah selera sih ya, karena pada dasarnya saya suka sama buku fiksi-petualangan, yang gini-gini mah bener-bener genre paporit aja gituuu… Sampai-sampai, book-haul Nov-Des tahun lalu yang baru dibaca separo/satu bab/beberapa bab saya tinggalkan begitu saja. Ha.Ha.ha.
Mungkin besok saya bakal ke Perpusda buat pinjam yang nomor 2 nya; PetaYang Hilang.

Ciao, adieu.

Comments

Popular posts from this blog

Sudah 23 Masih Belum Bisa Menyetrika (Dengan Baik)

Kemarin umur saya bertambah, jadi 23. Usia pantas menikah untuk perempuan. Katanya orang-orang tua sih....:D


Saya memulai hari kemarin dengan hampir tidak tidur pada waktu dini hari. Kemudian hampir kesiangan untuk sahur. Sampai akhirnya hampir tidak melakukan apa-apa seharian. Usia 23 ini saya rasakan adalah usia yang sama seperti kata HAMPIR ini. Kalau orang bilang usia 23 itu usia yang matang untuk wanita dewasa, saya lebih memilih menuju atau hampir matang dengan menyelesaikan tugas perkembangan saya satu-persatu. Kalau ada yang bilang usia 23 ini wanita seharusnya sudah bisa hidup mandiri, saya hampir bisa, tinggal cari pendapatan tetap untuk menggenapi seluruh biaya hidup mandirinya. Kalau ada yang bilang usia 23 itu sudah sepantasnya menikah, sedangkan saya hampir belum merasa ingin menikah. :D


Setelah solat subuh dan mengaji, saya memutuskan untuk tidur lagi karena malamnya saya baru tidur sebentar. Saya bangun sekitar jam 9 kalau tidak salah. Kemudian saya lanjutkan gogoleran s…

[REVIEW] SATU MATA PANAH PADA KOMPAS YANG BUTA

Setelah review ngga niat kemaren, hahahaha, karena intinya cuma pengen nulis sesuatu tentang Cinder yang aduhai ngga nahan keren gitu karakternya tapi ntah mau nulis apa juga ga paham, sekarang saya membawa satu buku yang saya dapat secara gratisan. Semoga reviewnya ngga kalah sama yang sebelumnya. Hahahaha-lagi.

Judul : Satu Mata Panah Pada Kompas Yang Buta
Penulis : Suarcani
Penerbit : Jendela O Publishing House
Jumlah halaman : 224
Waktu menyelesaikan : 2 siang.
Asal : Dikirimin Mbak Anggi.
Blurb : Kompasmu, apakah kamu memperhatikannya? Ada dua arah di sana. Utara dan Selatan. Sama halnya seperti matamu sendiri, arah itu akan menyelamatkanmu dari kesesatan. Tapi, kompas milikku buta. Tidak ada utara selatan dalam hidupku, semua hanyut dalam ketakutan dan masa lalu. Lima belas tahun penjara mencuri jarum kompasku dan setelah bebas, aku pun masih belum tahu ke mana arah hidupku. Aku pembunuh, korban hasrat yang menyimpang. Dunia luar menungguku, berpura-pura menyambutku dengan semar…