Bibbi Bokkens Magische Bibbliothek

Bibbi Bokkens Magische Bibbliothek

It can not be imagined, fantastic, and the 'magic' that the twenty-six letters of our alphabet can be combined in such a way as to meet the giant shelves with books and brings us to the world that never end. World that is always growing and growing, as long as there are humans on earth.(pg.237)

If I read a book that I liked, what I read it took my mind drifted to fly out of the book. Books do not only consist of words and pictures in it, but everything I imagined when reading it.(pg.43)

I wanted to write and to talk with myself about anything that comes from within my soul. Paper's more patient than men.(pg.52)

23 Februari 2017

DAY 18 : THE NIGHT OF MY 20TH BIRTHDAY

Usia 20 tahun.
Apa yang ada dibenak wahai pembaca yang budiman tentang usia 20 tahun?
Kalau saya, usia 20 tahun sangat penting dan sangat saya damba-dambakan, saat itu.
Mengapa?
Karena artinya saya bisa mengakses hal-hal yang dilabeli DEWASA. *halagh, SMA aja udah curi-curi baca Harlequin kok!*
Hahaha. Nggak, nggak, nggak salah. *heh?!*
Eh maksudnya, bukan hal-hal begitu.
Lebih kepada pengambilan keputusan dari hal-hal besar yang saya lakukan. Sebelumnya, mau beli komik aja mesti minta ijin dulu dengan seribu cara negosiasi biar diijinkan kalau pengen sesuatu. Menurut saya, usia 20 adalah waktunya saya memutuskan sendiri! Yeah! Mau ikut kegiatan apapun tinggal ikut, mau kemana pun tinggal berangkat, mau beli apapun asal punya duit saya beli, pokoknya mah semau saya!
Tapi nyatanya, usia 20 tahun saya dinodai oleh ingatan buruk. Sampai-sampai sekarang kalau harus mengingatnya antara malu sama tolol banget lah jadi orang.

Bulan Agustus tahun itu, iya 10 tahun yang lalu, ngga usah di-bold lah...
Agustus 2007, saya sedang menjalani KKN di desa....mmmm.... aduh malu mau nulis namanya, Linggamukti, yang ngerti artinya harap mingkem. Bukan malu sama desanya, tapi sama nama desanya, duh Gusti! Kalau desanya sih memorable banget, banyak spot poto bagus, orangnya luar biasa ramah, makanannya luar biasa pedas (ya Allah itu sambel Bu Kadesnya masih keinget banget rasanya di mulut sama di perut yang melibatkan proses metabolisme lainnya.) Di desa ini saya belajar makan daun singkong, sebelumnya saya nggak pernah makan daun singkong seumur hidup sekali pun! Karena kalau ngga makan daun singkong, saya ngga akan ketemu sayur. Yang artinya bencana untuk pencernaan saya, yang akhirnya menjadi bencana juga ketemu sambelnya Bu Kades. Di desa ini saya menikmati pertama kalinya, enaknya makan sate sapi, sampai 20 tusuk, tanpa perlu bayar, makasih lho pak Sekdes!

Di desa yang terletak di antara dua bukit itu, tepat di km.99 tol Cipularang, saya melewatkan usia kedewasaan itu. Bersama kawan-kawan KKN saya yang berasal dari berbagai fakultas dari Unpad tercinta, iya saya cinta Unpad walaupun nggak sempurna. Saya jadi yang paling bontot dari segi umur di antara teman-teman saya, tapi jadi yang paling besar soal ukuran tubuh dan tinggi badan, kan kamfret! Jangan tanya mengapa, karena saya emang begitu orangnya. Mengapa ya Allah, mengapa?????? *ruangan menggelap, lampu sorot di tengah bersinar dari atas. fin.*

Tapi sekarang sudah nrimo, karena memang DNA ngga bisa bohong, artinya saya beneran anak Papah saya. Hahaha.😁

Jadi hari itu, kami bangun pagi seperti biasa. Di rumah kontrakan yang ngga seberapa tapi selalu ramai suara gadis-gadis. Tenang, ngga satu rumah sama yang bujang-bujang, bahaya kata nenek TiPus mah... If you know what i mean... Ada yang ngucapin selamat ulang tahun, ada yang biasa aja, ada yang diem aja, ya biasalah... Dinamika kelompok. Kemudian kami memutuskan berjalan-jalan ke sawah setelah sarapan. Panas? Ngga, ngga panas sekali, pukul 8 ke sawah itu masih berasa pukul 6. Saya lupa-lupa inget, itu disengaja atau ngga, yang jelas saya kejeblos di pematang sampai dua kali dan saya berlumur lumpur. Saya pulang diketawain anak-anak kecil, Bu Guru belepotan, katanya. Hix. 😢😢 Hari itu ngga ada yang spesial, beneran, kayak hari-hari biasa saja. Kami sibuk dengan persiapan 17-an di desa yang dipersiapkan dengan SUANGAT MERIAH. Ya lombanya, ya panggung hiburannya, ya karnavalnya, ya kami sebagai tamu ditodong sebagai pembuat acara sekaligus pengisi acara, seriously pak Sekdes??? Kalau dipikir-pikir kok bisa ya waktu itu begitu? Hahaha. 😵

Sore itu, pulang ke kontrakan setelah lelah buat properti ngcat ini-itu, sebelum melangkah masuk ke dalam pagar saya diserang  berkantung-kantung air yang disusul lemparan terigu dan telur. Syok, kaget, dan diakhiri dengan perasaan senang. Wah, mereka perhatian sama saya! Kemudian kami mulai berkejaran kesana kemari, ditonton penduduk desa yang tetanggan sama rumah kontrakan. Kemudian saya ngga bisa mengontrol lari saya dan...
PRAAAANNNNGGGGG!!!!
Saya menabrak kaca rumah.
Terus saya ngblank, diem aja, mematung. Temen-temen saya ribut, saya ngga inget mereka bilang apa. Saya cuma sempet liat jam di dalam rumah, pukul 5 sore, dan ada dua orang anak didikan les kami sedang solat tepat di depan kaca yang pecah, kemudian dia ditarik oleh salah seorang teman saya. Saya juga diamankan dari TKP oleh seorang kawan. Dan kemudian menangis perlahan sambil gemetar hebat, stuttering sih kata temen saya, tapi saya sudah lupa bilang apa waktu itu sambil gemetaran.
Horror.....
Iya horor, pakai banget, mengapa? Karena jelas banget dari muka-muka mereka siapa yang mengkhawatirkan saya dan siapa yang siap menyalahkan saya dengan kejadian tersebut. Saya masih ingat dengan jelas seperti baru kemarin ekspresi-ekspresi itu. Horor. Tidak ada korban luka dari insiden tersebut. Hence, i don't really remember how i spent the rest of the day, that day. But i remembered the faces very clearly.😐

Besoknya, kita upacara dan menyiapkan acara 17-an yang digelar untuk tiga hari berturut-turut. Tidak ada detil yang bisa saya ingat. Saya cuma bisa ingat, kita ikut arak-arak-an dan ikut panggung gembira main drama malamnya. Oh ya, besok sorenya, kaca nya sudah kembali seperti semula. Makasih pak Sekdes... 

Salah satu momen berharga yang dinanti malah menjadi momen yang mengerikan untuk diingat. Sejak saat itu saya nggak pernah mau kalau diajak buat ngerjain teman yang ulang tahun dengan ala-bar-bar seperti kejadian di atas. Setiap ada teman kampus yang ulang tahun dan dikerjain begitu setelah kelas selesai, saya menyingkir. Padahal itu rencana satu angkatan, saya menyingkir. Ngeri. Ngeri kalau ada kejadian 'kebablasan' kayak gitu lagi. 😐

Yah, ternyata pelajaran pertama saya ketika menginjak kedewasaan adalah, bagaimana caranya kamu bisa mengontrol diri agar tidak merugikan orang lain.😔

Sekian.

XOXO,
slow aja lagi....😁