Bibbi Bokkens Magische Bibbliothek

Bibbi Bokkens Magische Bibbliothek

It can not be imagined, fantastic, and the 'magic' that the twenty-six letters of our alphabet can be combined in such a way as to meet the giant shelves with books and brings us to the world that never end. World that is always growing and growing, as long as there are humans on earth.(pg.237)

If I read a book that I liked, what I read it took my mind drifted to fly out of the book. Books do not only consist of words and pictures in it, but everything I imagined when reading it.(pg.43)

I wanted to write and to talk with myself about anything that comes from within my soul. Paper's more patient than men.(pg.52)

Tuesday, August 9, 2016

MAS EKA DAN CORAT CORETNYA [REVIEW?]

Minggu lalu, saya membaca sebuah buku dari pengarang Indonesia yang lagi banyak diperhatikan orang-orang. Kenapa begitu? Karena karyanya telah diterjemahkan ke dalam minimal 5 bahasa asing, dan review dari penerbit-penerbit besar internasional pun bertebaran dimana-mana. Siapa sih dia? Yup, dia adalah Eka Kurniawan! Posting blog kali ini bukan akan membahas Mas Eka, tapi buku Mas Eka yang sudah saya baca. Buku karangan Mas Eka yang pertama kali saya baca. Hehehe.

dokumentasi pribadi


Corat-Coret di Toilet adalah buku kumpulan cerpen karangan Mas Eka yang pernah diterbitkan media-media besar di Indonesia seperti Media Indonesia dan majalah Hai! Buku ini berisi 12 cerpen yang isinya bercerita mengenai kejadian-kejadian yang berlangsung di sekitar tahun-tahun reformasi Indonesia. Wajar saja, Mas Eka ini lulus kuliah ketika reformasi terjadi. Sebagai mahasiswa saat itu, pasti sedikit banyak tulisan Mas Eka akan banyak bercerita tentang jaman itu. Untuk saya sendiri, yang ketika itu ESDE saja belum lulus, tidak terlalu sulit untuk memahami apa yang terjadi di jaman itu melalui tulisan tangan Mas Eka. Saya sendiri banyak membaca karya-karya dengan isi sejenis ini ketika SMA dan awal kuliah.

Cerpen yang paling saya suka Si Cantik yang Tak Boleh Keluar Malam. Walaupun ditulis tahun 2000, cerita ini berlaku sepanjang masa. Berkisah mengenai Si Cantik yang selalu kemana-mana ditemani orang tuanya. Sampai suatu hari, ketika dia merasa sudah dewasa dan dia menemukan seseorang yang menyukainya, dia memutuskan untuk keluar rumah, di malam hari, sendirian. Tujuannya untuk mengungkapkan perasaan kepada si Romeo. Namun apa daya, Si Cantik terlambat, karena satu dan lain hal, untuk menyatakan perasaan kepada Si Romeo dan berakhir dengan tragis. Kisah ini seperti mengingatkan saya sebagai orang tua dengan anak perempuan bahwa menjadi over-protektif bukan jalan untuk menjaga anak perempuannya. Pun untuk anak laki-laki. Hahahaha. *Nggak usah berpanjang-panjang ngomongin parenting disinilah... *

Secara menyeluruh, saya suka, saya suka, saya suka sama tulisan Mas Eka! Tulisan Mas Eka seperti mengingatkan saya akan masa-masa saya suka membaca dan mencari-mencari sastra Indonesia yang berkualitas ketika saya berumur 20-an awal. Kritik sosial yang tersurat dalam tiap kisahnya juga mengingatkan kita yang terlalu sibuk dengan rutinitas dan, seakan-akan, lupa dengan kenyataan yang terjadi di lingkungan sekitar kita. Rasa-rasanya saya ingin membaca buku Mas Eka yang lain. Ada yang berkenan meminjamkan atau mengirimi saya satu? ;) Karena mungkin, mungkin, saya akan mengoleksi buku-buku Mas Eka untuk berderet di koleksi pajangan pengarang Indonesia saya. :)