Bibbi Bokkens Magische Bibbliothek

Bibbi Bokkens Magische Bibbliothek

It can not be imagined, fantastic, and the 'magic' that the twenty-six letters of our alphabet can be combined in such a way as to meet the giant shelves with books and brings us to the world that never end. World that is always growing and growing, as long as there are humans on earth.(pg.237)

If I read a book that I liked, what I read it took my mind drifted to fly out of the book. Books do not only consist of words and pictures in it, but everything I imagined when reading it.(pg.43)

I wanted to write and to talk with myself about anything that comes from within my soul. Paper's more patient than men.(pg.52)

Thursday, September 15, 2016

[review] CANTIK ITU LUKA

May gat!
Selesai juga baca buku ini dalam...... 3 hari! Kelamaan? Nggak juga, sih... Mengingat saya membacanya juga disambi pekerjaan macem-macem.

Kesan pertama setelah membaca : CAPEK! Capek? Ya capek, karena banyak banget sampai kurang lebih 479 halaman dengan font 'bukan font 12'. Mumpung masih fresh banget, saya mau mereview berkomentar sedikit untuk buku ini. Don't mind the strikethrough, karena saya nggak pede aja kalau ini disebut review, padahal judulnya pake [review]. Simpel, saya sudah lama tidak menulis tentang buku yang saya baca. Buku terakhir yang saya review komentari, masih bukunya Kang Eka di posting sebelum ini. Saya kecewa dengan hasil ketikan saya, tapi saya terlalu malas untuk membuatnya lebih sarat isi. Saya memang pemalas kok.

Buku CIL Kang Eka saya pinjam dari teman saya si Kimi, maka dari itu pun gambar bukunya saya ambil saja dari blog dia. Hehehehe. Resensinya bisa dibaca disini.

Membaca CIL membuat saya capek. Pertama, karena tebalnya dan fontnya yang tidak terlalu bersahabat seperti buku Harry Potter ke empat dengan ketebalan yang sama. Kedua, karena banyak adegan seksualnya, saya capek sekali membaca buku yang banyak adegan seksualnya apalagi sampai 400 halaman! Memang cocoklah adegan seksual hanya menyenangkan dibaca di buku-buku Harlequin saja, tipis dan cepat dibacanya. *LoL*

Setelah selesai membaca CIL, saya menyempatkan diri untuk mengintip review-review terkemuka dari beberapa kritikus maupun bukan kritikus sastra. Tidak lupa membaca pujian-pujian yang ada di bukunya juga. Saya setuju, membaca CIL memang membangkitkan rasa 'membaca karya sastra' seperti yang diangkat oleh mayoritas pujian baik dari dalam negeri ataupun luar negeri. Tapi kalau untuk konten, saya bingung. Jauh dari bukunya pram, tapi juga bukan Harry Potter. Hehehe. Jadi lebih aman kalau kita menyebutkan ini adalah sebuah fiksi, yang memiliki latar nonfiksi.

Setting yang diangkat juga fiksi, Halimunda, dimanakah itu? Tokoh-tokohnya, fiksi jelas, walaupun mungkin kita akan mengenali orang-orang dengan karakter seperti itu akan selalu ada di jaman dulu sampai jaman sekarang. Karakter tokohnya juga dibuat sangat kuat, walaupun saya kurang bisa membedakan karena kesamaan perilaku dan bahasa yang digunakan para tokoh. Penokohan yang menonjol tentu saja ada di tokoh utama, yaitu Dewi Ayu dan Rosinah. Sayang tokoh Rosinah hanya diceritakan sebagai figuran, pendamping tokoh utama, dan tidak ada cerita mengenai dirinya selain dialah yang merawat Si Cantik.

Kang Eka membuat tokoh-tokohnya nyata dengan karakter yang kuat, walaupun agak seragam kalau kata saya mah. Tokoh lelaki hampir menyerupai seragam karena dibuat rupa-rupa selalu tunduk dengan syahwatnya bila bertemu si para cantik (anak-anak Dewi Ayu dan perempuan-perempuan yang pernah disebutkan di buku ini). Tapi saya suka dengan tokoh preman Maman Gendeng yang bisa menahan syahwatnya selama 5 tahun untuk tidak menyentuh istrinya yang masih kecil. Sedangkan tokoh-tokoh (utama) perempuannya dibuatnya cantik dan 'mengundang', baik dia binal ataupun tidak. Kalau dipikir-pikir, tidak ada perempuan yang benar-benar binal di cerita ini. Dewi Ayu misalnya, menjadi pelacur karena terpaksa, dia tidak ingin berlama-lama disentuh laki-laki sehingga dia menjadi sedingin es ketika melayani pelanggan ketika di jaman Jepang, lalu menjadi pelacur eksklusif setelah jaman merdeka datang. Alamanda, diperkosa laki-laki yang mencintainya, tapi banyak juga menghancurkan hati banyak lelaki. Adinda, hanya mengejar Kliwon, dan menerima untuk apapun keadaan Kliwon. Maya Dewi, mungkin satu-satunya yang agak waras karena 'diselamatkan' oleh ibunya setelah melihat kakak-kakaknya yang tumbuh 'binal'. Sedangkan Si Cantik, ah dia adalah korban doa ibu yang dikabulkan.

Sebenernya setiap tokoh yang diciptakan unik, kesamaan yang saya rasakan mungkin karena latar belakang tokoh yang berdekatan dan berhubungan darah (gosh, inses dimana-mana...), atau penggunaan bahasa untuk setiap percakapan yang muncul sedikit seragam. Shodanco dan Maman misalnya, mirip pisan!

Alur ceritanya sendiri maju mundur. Ya maju mundur, karena Kang Eka menceritakan hidup si tokoh utama bergantian dengan timeline yang kurang lebih sama. Buktinya, ketiga anak Dewi Ayu melahirkan di waktu yang hampir bersamaan, bisa dibilang dalam rentang tahun yang sama. Yang mana berarti setiap kejadian penting yang berlangsung di saat yang hampir bersamaan dengan tokoh masing-masing. Cerdas menurutku, karena itu berarti setiap tokoh adalah tokoh utama dalam hidup (fiksi) nya. Yang figuran cuma Rosinah, dan beberapa teman Dewi Ayu di awal-awal cerita ketika mereka dimasukkan ke kamp oleh orang-orang Jepang.

Setelah menyelesaikan bukunya, ternyata ada satu tokoh penting yang saya lupakan dan muncul di akhir cerita, yaitu Ma Gedik. Kemunculan Ma Gedik di akhir cerita menjadi unik, karena kemunculannya menyimpulkan tema isi buku CIL menurut saya. Apa katamu? Setelah selesai, saya langsung 'ooohh, ini teh buku tentang balas dendam masa lalu.' Pembahasan-pembahasan mengenai keberadaan roh-roh yang berkeliaran ternyata menyibak keberadaan Ma Gedik itu sendiri. Yah, Dewi Ayu pun bangkit dari kubur juga di awal cerita. Bisa dianggap dia pun roh gentayangan. Jadi ingat drama korea Age of Youth yang ceritanya tentang cewek-cewek yang berusaha berdamai dengan masa lalu mereka setelah salah seorang temannya berkata ada hantu yang mengikuti mereka. Perumpamaan yang cakep banget menurutku, roh-dendam-masa lalu. tsadis...

Akhirul kalam, saya akan menyudahi komentar-komentar saya tentang buku Kang Eka yang ini, semoga lebih bisa dinikmati ketimbang membaca postingan yang sebelumnya. Secara keseluruhan saya menikmati intensitas cerita dan plot yang disuguhkan kang Eka di buku ini, dan mungkin saya akan membaca lagi buku-buku kang Eka yang lainnya. Etapi, jenis-jenis buku kang Eka bukan buku yang bisa dinikmati setiap hari atau minggu atau bulan secara rutin. Setidaknya buat saya, buku-buku seperti ini dinikmati sekali-dua kali saja dalam setahun. Hehehehe.



Oh, dan untuk cover, saya nggak suka, tapi covernya cocok banget sama isi bukunya. ;)

Makasih buat Kimchi atas pinjaman bukunya, ayo kita maksi lagi, nanti aku balikin bukumu! Hehehe.

Ah ya, sebelum buku ini sebenernya banyak buku yang saya baca sih, nanti deh saya cicil ya komentar-komentarnya.