Bibbi Bokkens Magische Bibbliothek

Bibbi Bokkens Magische Bibbliothek

It can not be imagined, fantastic, and the 'magic' that the twenty-six letters of our alphabet can be combined in such a way as to meet the giant shelves with books and brings us to the world that never end. World that is always growing and growing, as long as there are humans on earth.(pg.237)

If I read a book that I liked, what I read it took my mind drifted to fly out of the book. Books do not only consist of words and pictures in it, but everything I imagined when reading it.(pg.43)

I wanted to write and to talk with myself about anything that comes from within my soul. Paper's more patient than men.(pg.52)

Tuesday, October 4, 2016

DILAN 1990, DILAN 1991, dan MILEA

"Jangan datang ke perempuan untuk membuat dia mau, tapi datanglah ke perempuan untuk membuat dia senang."
  
Saya hari ini sudah menyelesaikan buku MILEA-nya Pidi Baiq versi soft-reading (jangan tanya dapat dari mana!) setelah saya penasaran begitu buku itu keluar. Budget buku saya lagi dikurangi. Hahahaha.

Saya membeli Dilan 1990 dan Dilan 1991 secara terpisah, yang satu di toko buku di kota saya dengan diskon, dan yang satu lagi dengan dalih lagi-lagi penasaran akan kelanjutannya, saya pesan online dengan diskon juga. Ketika Milea keluar, saya hampir mau membeli ikutan PO, tapi saya nggak butuh CDnya. Akhirnya nggak jadi. Begini dan begitu, ini dan itu, akhirnya saya membaca Milea. Setelah selesai membaca Milea, apakah Ayah Pidi akan mengeluarkan buku lanjutan Dilan-Milea lain? Soalnya Milea kan sudah mau tunangan dan Dilan sudah punya pacar yang juga dia pikirkan selalu. Ups....

Saya kaget waktu membaca Milea di awal karena ternyata Milea ini dari sudut pandang Dilan, dan dua buku sebelumnya adalah kisah dari versi Milea. Sebentar.... Saya ingat-ingat lagi isi bukunya..... Iya, benar, saya kaget kemarin. Dalam ingatan saya, saya lebih menyukai Dilan 1990 dari Dilan 1991 karena menurut saya Dilan 1990 itu isinya Dilan (walaupun ada beberapa bab yang memang sudut pandang Milea), dan Dilan 1991 itu isinya (seluruhnya) Milea. Membaca Dilan 1990 itu seperti melihat sohib cowok kamu lagi pedekate ke temen cewek yang kamu nilai baik. Menyenangkan. Membaca Dilan 1991seperti mendengarkan sohib cewek kamu bercerita tentang pacarnya sepanjang waktu dengan segala emosinya. Saya nggak terlalu sreg baca Dilan 1991 karena kesannya Milea berubah, tidak menjadi cewek yang menyenangkan seperti di buku Dilan 1990, tapi cewek yang mengatur-ngatur cowoknya. Walaupun Dilan tetap cinta. Kemudian saya membaca Milea. Saya sempat kecewa karena awalnya saya berharap bertemu dengan Dilan di Dilan 1990 yang lucu dan cerdas. Rasa kecewa saya sedikit terobati setelah saya sampai di halaman terakhir Milea.


Dilan 1990 memberikan kita kisah cinta anak SMA di tahun 1990. Karakter Dilan yang lucu dan cerdas siapapun pasti suka. Dilan orangnya jujur, setia kawan, humoris, dan sayang sama keluarganya. Sepintas terdengar seperti anak baik-baik ya? Tapi Dilan adalah pemimpin geng bermotor lho! Dengan segala bayangan kita tentang geng bermotor, percayalah Dilan jauh dari bayangan itu. Walaupun tampilannya mungkin agak slengean. Hehehe. Sekolah Dilan kedatangan anak baru, Milea namanya. Dilan tadinya tidak terlalu ngeh, dan ketika dia ngeh, sukalah dia ke Milea! Dimulailah pedekate yang lucu cerdas dan kocak ala Dilan ke Milea. Saya suka sekali membaca bagaimana cara Dilan pedekate ke Milea yang nggak biasa! Apapun yag dia lakukan visinya cuma satu, 'Apapun asal Milea senang dan tertawa'. Buat saya, laki-laki dengan visi seperti itu (terhadap kekasih ataupun keluarganya) salah satu yang terbaik untuk bisa dipilih. Hahaha. Buku ini berakhir ketika Dilan dan Milea menandatangani proklamasi jadian mereka yang disegel materai di buku tulis Milea. Yang mana sangat unik!
Buat kamu, cowok-cowok yang berharap cintanya diterima oleh kekasih hati, belajarlah lewat buku ini. Jangan mengambil inplisitnya (misalnya, mengirim coklat dengan TTS yang sudah diisi, ini udah trademarknya Dilan, be creative dude!), tapi coba resapi dan lihat cewek yang kamu senengin itu bakalan seneng kalau kamu melakukan apa? Lalu, jadilah unik! Hahaha.

Dilan 1991 sangat berbeda dengan Dilan 1990. Baik dari gaya penulisan dan emosi yang terkandung di dalamnya. Mungkin karena mereka sudah jadian kali ya... Tapi kelucuan Dilan masih ada, yang mana membuat saya bertahan menyelesaikan buku ini. Pacaran nggak melulu isinya romantisme, hayo ngaku siapa yang nggak pernah berantem selama pacaran? Kamu? Serius? Nggak percaya saya mah... Pacaran isinya senang-senang dan berantem. Begitu pula Dilan 1991. Dilan yang baik hati, jujur, penyayang, setia kawan, juga kepala geng motor. Milea nggak suka ini. Milea juga nggak terlalu suka dengan teman-teman geng motor Dilan yang mana menurutnya akan membawa Dilan kepada keburukan. Setuju sih saya. Namun, saya nggak suka Milea disini yang mengatur-ngatur Dilan soal geng motor ini. Dilan tau batasnya, teman-temannya pun nggak semuanya urakan dan beringas. Kemudian, Milea yang baik hati dan pintar menanggapi Dilan di Dilan 1990, berubah menjadi power ranger. Milea menjadi... apa ya, semakin galau dan menjadi agak cengeng dengan mengedepankan emosinya supaya Dilan 'menuruti' dia. Contoh : "Pilih aku atau Burhan?" (salah satu teman Dilan di geng motor). Giiiirrrrlllllssss.... secantik-cantiknya kamu, playing choices like this is never accepted! Kecuali, "Pilih aku atau narkoba?", atau "Pilih aku atau rokok?", atau "Pilih aku atau tawuran?" begitu...  why??? Karena narkoba dan rokok dan tawuran mengancam kelangsungan hidup pasangan kamu. Tapi kalau berteman, biarkan saja...
Tapi saya suka ending buku ini, karena Milea dan Dilan tidak bersama dengan cara yang sangaaaaatttttt mungkin terjadi di dunia nyata. So natural.... Realistis kalo kata si Kimi.

Milea yang baru selesai saya baca tadi siang menyuguhkan narasi-narasi dari Dilan yang sudah dewasa tentang dirinya ketika remaja.  Saya bilang di awal tadi saya kecewa di awal, tapi berkurang ketika di halaman terakhir. Why??? Karena saya tidak menemukan kejenakaan dalam diri Dilan dewasa. Pandangan hidupnya masih sama, tapi kelucuannya berkurang. Apa karena bentuknya narasi ya? Dilan lebih banyak bercerita tentang kontemplasinya dari masa lalu. Mengapa dulu begitu, mengapa dulu begini. Yang sedikit banyak terdengar seperti 'pembelaan' masa muda yang bergejolak dan bergairah.  Kita pun juga mengalami masa muda yang bergejolak dan bergairah ya tentunya. Makanya saya maklum saja dengan Dilan dewasa. Dilan mengalami masa remaja yang menyenangkan, dan tidak menyenangkan, dengan beberapa hal yang tidak terjawab pasti, yang kemudian mendapat jawabannya di kemudian hari. Dilan belajar, kita belajar. Milea punya tunangan, Dilan punya pacar, dan saya senang. Itulah yang membuat saya tidak terlalu kecewa karena tidak mendapatkan kelucuan Dilan yang saya harapkan seperti di buku Dilan 1990. Dilan Punya Pacar. Bayangkan kalau Dilan tidak punya pacar, saya tidak mau misuh-misuh seperti ketika saya tau ending dari film AADC2! Jangan jadikan Dilan-Milea menjadi Rangga-Cinta kedua! Hell no! Mungkin abang Dilan mau diwawancara Ayah Pidi untuk dibuatkan buku Cika. Hehehe. Aaaahhh... saya kangen lucunya Dilan.
Di buku ini saya mendapatkan sebuah pertanyaan baru, apakah Dilan berhasil menjelaskan perkara Akew kepada ayahnya? Bagaimana sikap si Ayah setelah mengetahui kebenaran dari cerita Akew? Saya penasaraaaaannnnn......
Soal Dilan-Milea yang masih suka rindu-rinduan,  ah biarlah, toh mereka masing-masing punya kenangan di masa lalu, toh mereka juga dulunya temenan. Ya nggak? Seperti kita yang terkadang merindukan kejayaan masa muda kita. Ya kan? Ya kan? Ya kan?

Panjang dan membosankan. Terima kasih banyak yang sudah membaca.
Silakan membeli buku Dilan series dari Pidi Baiq ini kalau kamu mencari buku-buku yang akan membawa kamu berkelana ke masa mudamu.
Silakan membeli buku Dilan series dari Pidi Baiq ini kalau kamu mencari buku-buku ringan untuk menemani soremu yang mendung di bulan Oktober ini.

XOXO,
(ambil buku Dilan 1990 lagi)