Skip to main content

Sudah 23 Masih Belum Bisa Menyetrika (Dengan Baik)

Kemarin umur saya bertambah, jadi 23. Usia pantas menikah untuk perempuan. Katanya orang-orang tua sih.... :D


Saya memulai hari kemarin dengan hampir tidak tidur pada waktu dini hari. Kemudian hampir kesiangan untuk sahur. Sampai akhirnya hampir tidak melakukan apa-apa seharian. Usia 23 ini saya rasakan adalah usia yang sama seperti kata HAMPIR ini. Kalau orang bilang usia 23 itu usia yang matang untuk wanita dewasa, saya lebih memilih menuju atau hampir matang dengan menyelesaikan tugas perkembangan saya satu-persatu. Kalau ada yang bilang usia 23 ini wanita seharusnya sudah bisa hidup mandiri, saya hampir bisa, tinggal cari pendapatan tetap untuk menggenapi seluruh biaya hidup mandirinya. Kalau ada yang bilang usia 23 itu sudah sepantasnya menikah, sedangkan saya hampir belum merasa ingin menikah. :D


Setrikaan saya yang sudah berumur 6 tahun.
Setelah solat subuh dan mengaji, saya memutuskan untuk tidur lagi karena malamnya saya baru tidur sebentar. Saya bangun sekitar jam 9 kalau tidak salah. Kemudian saya lanjutkan gogoleran sampai sekitar Dzuhur lewat, saya merasa tiada bergairah dan lesu karena tidak ada kegiatan untuk bertemu teman-teman ataupun berhubungan dengan pekerjaan. Sempat menerima telepon dari ibu saya, beberapa teman, dan saudara. Lalu saya mandi, dan baru merasakan segarnya kena air. Saya akhirnya melek. Setelah itu, saya membereskan kamar yang agak berantakan dan menemukan tumpukan cucian bersih yang belum disetrika di kursi hijau plastik saya. Saya pikir, ini sudah berapa minggu ya numpuk disini??? *silahkanmencibirdanbilangsayamalastapitanggungdosanyasendirilhosoalnyalagipuasakanharussabaryaaaaa....
Sebenarnya tumpukan itu tidak berminggu-minggu, tapi tiap minggu bertambah tumpukannya satu hingga dua potong, sehingga menjadi banyak. Ini nanti kalau butuh dipakai, belum disetrika lagi! Akhirnya saya memulai kegiatan pertama saya hari itu, MENYETRIKA.


Perlu diketahui, saya nyaris jadi (calon) istri yang baik kecuali dalam hal ini. Saya nggak bisa menyetrika dengan cepat dan baik. Yang kalau saya pikir-pikir (dengan analogi ke-lebay-an saya) sama seperti saya yang belum bisa merapihkan hidup saya sendiri. Setidaknya hidup saya bukan berantakan ala sinetron dimana masalah dan penderitaan datang bertubi-tubi dan hidup saya isinya hanya airmatadanairmata. Hidup saya lebih kepada hidup yang butuh sedikit keteraturan. Teratur makan (lagi puasa sih sekarang), teratur tidur, teratur bekerja, teratur menabung, dan teratur-teratur lainnya. Sebenarnya saya bisa kok menyetrika, tapi lama. Sangking lamanya, di rumah, saya kadang disuruh minggir kalau lagi pegang setrikaan.Tapi khusus untuk baju-baju sih, kalo kerudung dan pakaian kecil-kecil (baca:underwear) sih bisa-bisa saja. Dan hari ini saya menyetrika dari siang jam 2 sampai jam 12 malam hanya untuk 8 potong pakaian, 4 potong krudung. Tentu saja disambi-sambi dengan acara meladeni teman saya chatting, solat asar, beli buka + makan malam, dan solat tarweh.


Sambil menyetrika saya berusaha melihat apa yang sudah saya lakukan selama 23 tahun kebelakang. Apa-apa yang harus saya pertahankan dalam diri saya, apa-apa yang harus dibenahi, apa-apa yang harus diperbaiki. Di tanggal ini, 16 Agustus, saya biasanya akan merasa sangaaaaaaaaaaaaaaaaaatttt bersyukur dilahirkan dari rahim Ibu saya, dan memiliki ayah seperti Papa saya, dan punya Adik nakal seperti adik saya. Betapa bersyukurnya saya dilahirkan di keluarga yang semuanya serba pas, tiada kurang juga tiada berlebih. Walaupun sekarang saya cenderung boros (untuk urusan hobi yaitu membaca buku, menonton film dan mencari makanan enak), sebisa mungkin saya masih terus mengingat nasihat-nasihat Ibu-Papa untuk selalu mendahulukan yang penting (yang mana lebih banyak gagal dan hampir gagalnya daripada berhasil). Ini adalah hal pertama, sudah diberikan hidup, dan dihidupkan di keluarga yang sekarang saya miliki.


Saya sudah lulus, itu adalah hal kedua dari list syukur saya hari ini. Perjuangan (saya memang menyebutnya perjuangan karena saya melawan diri saya sendiri) selama kurang lebih dua tahun untuk menyelesaikan skripsweet pun selesai sudah. Tapi rutinitas saya masih sama, begadang, internetan, baca jurnal, ngobrol soal hal-hal yang berkaitan dengan disiplin ilmu saya. Tapi minus major project yang harus diselesaikan. Sebenarnya sih ada major projectnya, menulis cerita-cerpen-novel-apalah. Pokoknya saya ingin menerbitkan sebuah buku yang bisa dibaca semua orang. Hanya saja, masih bingung akan memulai dari mana.


Kemudian hal yang ketiga adalah kenyataan bahwa saya melewatkan hari ini sendirian. Hahaha. Pertama kalinya saya ulang tahun tanpa dikelilingi teman-teman saya. Biasanya tiap tahun ngumpul hanya sekedar untuk mengobrol, mengusili saya, atau (kalau dompet lagi sehat) syukuran sedikit-sedikit. Dan minimal dua orang kawan dekat saya ada bersama saya. Hari ini, tahun ini, tidak ada. :D Dan anehnya, saya tidak merasakan sedih berlebihan seperti tahun-tahun lalu kalau saya melewatkan ulang tahun saya sendirian. Boro-boro sedih berlebihan, sedih saja tidak. Saya bersyukur bahwa Allah SWT sudah mengarahkan hati saya untuk bisa lebih bertahan sendirian.
Kalau Anda yang membaca ini adalah teman-teman dekat saya, pastinya kalian tahulah bagaimana tidak mandirinya saya sehingga selalu butuh orang lain untuk menemani atau mendampingi. Bahkan di tahun-tahun pertama kuliah pun saya masih mengajak teman wanita saya untuk menemani ke toilet. Seperti waktu SMA. 
Buat kawan-kawan saya yang sudah bersedia untuk menjahati saya dengan sedikit demi sedikit menyuruh saya melakukan semuanya sendirian, terima kasih yaaa. Saya sekarang bisa melihat bahwa lonely dan being alone itu berbeda. Sekarang saya suka berada di posisi being alone tanpa harus merasa lonely.
Saya sangat bisa menikmati kesendirian saya. Saya pergi ke bioskop sendirian. Saya makan di tempat enak sendirian. Saya jalan-jalan sendirian. Banyak hal saya lakukan sendirian. Termasuk urusan cinta. Kalau kata temen saya, sekarang ini adalah waktu terpanjang saya menjomblo semenjak masa-masa pacaran dimulai. Biasanya kalau baru putus, nggak lama, pasti ada saja yang pedekate. Bukan, bukan, saya nggak cantik kok, cenderung biasa saja malaaahh...  Hahahahaha. *ketawasendiriajadeh 
Dan saya masih ingin bertahan dengan kesendirian ini.
Satu masalah yang belum bisa saya atasi dari masalah ini adalah keluarga saya. Ibu-Papa saya seakan-akan tidak mengijinkan saya untuk menikmati kesendirian saya di usia ini. "Mbak, jangan santai-santai ya, sambil cari-cari, sambil liat-liat, doa, minta sama Allah supaya didekatkan jodohnya, kalau ada yang kamu taksir minta didekatkan hatinya." Oke. Biasanya saya cuma menjawab "Iyaaaaaaa...." dengan A yang panjang. 
Saya maklum, soalnya di keluarga saya musim banget yang jadi perawan tua, sudah ada empat orang sepupu-sepupu perempuan saya yang usianya di atas 30an dan belum menikah. Tentu saja hal ini membawa keresahan tersendiri untuk orang tua saya. Apalagi anak-anak lulusan psikologi terkenal seret jodoh. :)) 
Dan giliran menikah selanjutnya adalah saya dan sepupu-sepupu yang lahir di tahun 87, yang hanya ada tiga orang. Eh, tapi mas sepupu saya kelahiran 82 juga ada yang belum menikah dink, ditambah sepupu-sepupu yang perempuan-perempuan tadi, untuk sementara amanlah eksistensi saya di acara-acara keluarga sebelum saya bosan untuk hadir karena menghadapi pertanyaan yang sama. "Kapan nikah?" Pacar saja tidak punya bude.... 
Bismillahi Tawakaltu Kun Faya Kuun sajalah...boleh kan ya, ya Allah?
Oiya, saya juga bertekad untuk lebih bisa bertutur halus kalau ditanya sama Ibu-Papa. Seringkali nada saya naik kalau berbicara dengan beliau-beliau itu. Sehingga seringkali saya melihat gurat kecewa di mata mereka, bahakan kadang-kadang marah. Padahal ya maksud saya juga bukan mau berteriak atau menyanyi seriosa lho... Mungkin saya harus lebih bisa sabar kalau Ibu-Papa mulai mengulang-ngulang pertanyaan yang sama setiap hari. Saya yang harus menempatkan kaki saya di kaki mereka. Bantu saya ya Allah untuk bisa lebih menunjukkan bakti saya kepada mereka....
Contoh, waktu pagi kemarin ibu saya telepon saya, saya angkat sambil masih setengah tidur. 
Ibu: "Mbak, kamu ulang tahun ya? Kok nggak nelpon ibu ngucapin selamat sama ibu? Kemaren-kemaren kayaknya sudah dikasih tau. Taun kemaren juga kamu nelpon ibu duluan. Kok sekarang nggak bilang makasih sama ibu?" -saya tahu maksudnya bercanda, tapi entah kenapa saya dengernya ibu sinis betul sama saya.
Saya : "Emmhh...baru juga bangun aku bu!"- agak meninggi, saya nggak begitu suka kalau bangun tidur dengan perasaan kaget.
Ibu : "Kok ngebentak-bentak sih mbak?"
Dan saya akhirnya terpaksa melek untuk minta maaf dan bisa menjawab sesadar-sadarnya. :))


Selanjutnya adalah bagaimana pandangan saya berubah perlahan-perlahan kalau menghadapi suatu masalah. Tidak se-reaktif dulu, walaupun masih agak suka senewen sendiri kalau ada yang bikin hati ini kesal dan merasa terancam. Manusiawi kan... Saya masih mengusahakan kok untuk bisa 'kalem'. Dan beberapa teman lama ada yang bilang saya agak berubah dari saya yang dulu. Iyes!Iyes!Iyes! Kemampuan saya untuk menganalisis suatu masalah juga meningkat kalau saya lebih 'kalem', saya bisa berpikir 'lebih' dari biasanya. Alhamdulillah... Dan di usia yang katanya dewasa ini saya masih diberi kemampuan belajar yang tinggi. Soalnya saya merasa lebih bisa mencerna ilmu-ilmu jaman kuliah dulu saat sekarang-sekarang ini. :))
Gara-gara kemampuan belajar yang nggak pernah mau berhenti ini, saya suka takut otak saya mengkerut kalau saya kebanyakan menganggur dan tidak melakukan apa-apa. *maklumsayakankerjadiklinikmemorijadisedikitbanyaksayadikasihtaubahayanyakalaukitatidakmenggunakanotakdenganrutin
Saya merasa kalau saya menjadi lebih bisa bijak kalau menanggapi sesuatu. Bisa bijak lho, bukan menjadi bijak, apalagi sok bijak. Saya juga mendapatkan pengalaman-pengalaman dalam beberapa bulan terakhir ini dimana saya ini belum ada apa-apanyalah kalau dibandingkan teman saya si A yang sudah jadi PNS dimana, atau si B yang gajinya tinggi di BUMN Anu. Keinginan saya untuk berada di luar kotak saya sendiri terkadang membantu penglihatan saya akan sesuatu. Yah, kadang masih takut sih untuk keluar dari kotak. Tapi sedikit demi sedikit sudah mulai sadar kok yang mana yang harus ditambel, yang mana yang harus dirapihin pojok kotaknya. Bismillah....Semoga tahun depan menjadi lebih baik dari tahun kemarin ini ya Allah....


Nah, yang menjadi pikiran saya sekarang adalah bagaimana menggenapi yang hampir-hampir tadi, kecuali yang terakhir disebutkan. :))
*bolehketawakok
Saya tahu apa yang saya butuhkan. Saya membutuhkan suatu pekerjaan yang sesuai dengan bidang ilmu saya, dan lebih baik lagi kalau memenuhi passion saya terhadap hidup. Passion saya? Aahh...Saya bahas lain kali sajalah. Panjang kalau diuraikan disini. Ini saja sudah cukup panjang. Pasti sudah pada lelah bacanya. Intinya passion saya itu berhubungan dengan anak-anak, pengajaran, dan pendidikan. Masalahnya, saya ini suka pilih-pilih. Saya nggak mau asal masuk kantor dan dapat duit tanpa saya mencintai pekerjaan saya.
Belum lagi keinginan-keinginan untuk mengembangkan skill-skill yang berhubungan dengan hobi saya yang segudang. Dan masih ditambah keinginan saya untuk buka usaha di bidang hobi itu.
Waktu teman saya bertanya, "Apa yang akan kamu lakukan kalau kamu hanya diberi waktu seminggu satu hari untuk menentukan apa yang menjadi tujuan hidup kamu, satu hari untuk menentukan apa yang kamu lakukan, dan besok hal itu sudah harus dilakukan, karena besok kamu tahu kamu akan mati?" Speechless saya..... Jawabnya ngasal abis! Sampai-sampai saya sudah tidak bisa ingat jawaban saya sendiri.
Dan saya harus memulai untuk mendaftar hal-hal remeh temeh yang harus saya lakukan kalau saya menginginkan hal yang berhubungan dengan keinginan hidup saya. Saya lemah untuk membuat daftar ini. :)) *see?bahkanmasihsajamelihathaldenganproblembasedpadahalsudahdiajarkanuntukpowerbasedsolvings


Yasudahlah...
Saya memang masih labil. Saya masih menjadi manusia dewasa hampir-hampir. Kadang saya masih ingin menjadi anak-anak, tapi juga tidak mau sampai kena PeterPan Syndrome (terima kasih masditto yang sudah bertanya tentang hal ini dan membuat saya mencari artinya). Saya mulai dengan mendaftar tugas perkembangan saya untuk usia ini :
Menyelesaikan pendidikan : CEK
Hidup terpisah dari orang tua : CEK
Mandiri tanpa bantuan orang tua : .....................
Pekerjaan tetap : ...............................
Pasangan Intim : .............................
Memiliki sahabat-sahabat terpercaya : CEK


Begitu sahajalah.
(Tidak) Cukup panjang untuk menjadi sebuah kontemplasi hidup yang sudah berumur 23 tahun. *danmungkinjugatidakadayangmaubacasangkingsudahpanjangnya
Bagaimana dengan kalian saat berulangtahun di tahun ini?


وَالسَّلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا
Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari kelahiranku, pada hari kematianku, dan pada hari aku dibangkitkan kembali. [QS. 19:33]


Read Good Books, Watch Inspiring Movies, and Eat Well!
Have fun readers.

Comments

  1. Semoga tiga item yang belum di uncheck bisa cepat dicapai kedepannya, hehehe.

    nb: gw juga kalau bangun tidur 'kaget' moodnya suka berantakan :D

    ReplyDelete
  2. :oldradix:
    saya tawar deh mang, dua dulu yah, ga ada duitnya mang..semuasemua mahal skarang...:P

    ReplyDelete
  3. Heu, Saya juga ga bisa nyetrika, tiap habis cuci dan kering, langsung lipet masuk lemari :p

    Salam kenal Lulu :D

    ReplyDelete
  4. :nd:
    *tossduluahsebelumkenalan

    halo mbak nad...:-h
    wah, sekalinya mampir baca yang panjang.
    makasih yaaa...

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

DILAN 1990, DILAN 1991, dan MILEA

"Jangan datang ke perempuan untuk membuat dia mau, tapi datanglah ke perempuan untuk membuat dia senang."

Saya hari ini sudah menyelesaikan buku MILEA-nya Pidi Baiq versi soft-reading (jangan tanya dapat dari mana!) setelah saya penasaran begitu buku itu keluar. Budget buku saya lagi dikurangi. Hahahaha.

Saya membeli Dilan 1990 dan Dilan 1991 secara terpisah, yang satu di toko buku di kota saya dengan diskon, dan yang satu lagi dengan dalih lagi-lagi penasaran akan kelanjutannya, saya pesan online dengan diskon juga. Ketika Milea keluar, saya hampir mau membeli ikutan PO, tapi saya nggak butuh CDnya. Akhirnya nggak jadi. Begini dan begitu, ini dan itu, akhirnya saya membaca Milea. Setelah selesai membaca Milea, apakah Ayah Pidi akan mengeluarkan buku lanjutan Dilan-Milea lain? Soalnya Milea kan sudah mau tunangan dan Dilan sudah punya pacar yang juga dia pikirkan selalu.Ups....

Saya kaget waktu membaca Milea di awal karena ternyata Milea ini dari sudut pandang Dilan, dan dua…

RIUH JAGAD MAYA

Setelah pilkada Jakarta usai, ternyata keriuhan jagad maya belum selesai.
Wow banget kaka... salut sama kamu-kamu-kamu yang tiada henti entah menebar fakta atau isu atau sekedar pendapat dan pemikirannya atau malah fitnah (na'udzubullah) di jagad maya. Konsistensi yang luar biasa.... *standing applause*
Seakan-akan energimu tiada habisnya untuk mencari dan mencari, sebar dan membagi.
Coba energimu dialihkan untuk lebih keras mencari jodoh dan menggenapkan setengah dien. #eh
Coba energimu dialihkan untuk  mencari keahlian baru yang bisa berguna untuk nambahin CV atau sekedar keterampilan kerja dan kreatifitas. #uh-huh
Coba energimu digunakan untuk berbaikan dengan teman-temanmu yang terputus silaturahminya karena satu atau dua kata yang menyulut pertengkaran yang sesungguhnya tidak penting dan merugikan. #udahsipbelum?
Coba, lagi, energimu digunakan untuk mencari uang lebih banyak supaya bisa mencari restoran yang murah dan enak supaya bisa traktir keluarga besarmu. #yanginisipbange…

SCURVY

SCURVY. Pernah dengar sebelumnya? Nggak? Saya juga tadinya belum pernah baru dengar. :-D Gara-gara cerpen yang saya buat, saya jadi tahu kata ini, SCURVY, beserta arti lainnya. Kalau menurut terjemahan Om Gugel, SCURVY ini artinya CURANG. Curang itu contohnya seperti ini, "Hati-hati awas jatuh ke CURANG!", atau seperti ini, "Tolong tambahkan uang saku bulanan aku donk Pa, CURANG nih buat jajan.".  Garink?  Yes, I Am! :-P
Kali ini saya bukan membahas mengenai SCURVY=CURANG. Ada SCURVY yang lain. SCURVY yang berarti adalah defisiensi vitamin C. Wow! Saya kira tadinya kalau kekurangan vitamin ya namanya hanya avitaminosis. Ternyata, yang ini ada nama penyakitnya! SCURVY. Mau tau lebih lanjut? Enjoy this writing!